google-site-verification: google13bd4c39d137e058.html

Bahasa Ibu, ‘Jangan Tanggalkan Ayo Hidupkan’


Setiap manusia yang terlahir mendapatkan bekal pengetahuan sebatas kekosongan yang kemudian diisi melalui berbagai pendekatan-pendekatan. Mulai dari yang terdekat yakni dalam ruang lingkup keluarga. Pengetahuan-pengetahuan tersebut kemudian berhasil mewujudkan kekosongan-kekosongan itu sendiri menjadi bentuk visual yang realistis, salah satunya adalah bahasa.

Bahasa menjadi aspek penting dalam kehidupan, kemunculannya berasal dari buah pikiran manusia yang kemudian tercetus melalui sistem dalam diri manusia. Bulan Februari ini dunia internasional memiliki agenda tentang kebahasaan, dunia menyebutnya dengan Hari Bahasa Ibu Internasional. Hal tersebut berangkat dari sistem kedaerahan yang menerbitkan bahasa daerah, bahasa etnis atau bahasa ibu, kemudian oleh UNESCO diambil langkah bijak merangkul keberagaman bahasa tersebut menjadi bahasa ibu, seraya gerakan itu maka lahirlah Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Menurut Oentarto Sindung Mawardi, dalam makalahnya yang berjudul “Peran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Memperkukuh Ketahanan Budaya Bangsa” mengutarakan jika apa yang dilakukan UNESCO menunjukan betapa pentingnya upaya mempertahankan penggunaan serta pemberdayaan fungsi bahasa daerah/etnis/bahasa ibu di tengah masyarakat pendukungnya (2003:5).

Baca Juga :  Berkedok Jual Beli Mobil, Tersangka Pelaku Penipuan Ditangkap Polisi

Bahasa Ibu di Nusantara

Secara universal, bahasa menjadi sarana yang penting untuk komunikasi. Sifatnya yang luwes mampu memberikan aksen-aksen tertentu di kehidupan manusia. Terlebih di negara Zamrud Kathulistiwa ini, didalamnya banyak ditemukan khazanah atau vokabuler bahasa yang berangkat dari otonomi dan perkembangan suku di setiap daerahnya. Dari wilayah Sabang sampai Merauke semuanya berdampingan antara bahasa yang satu dengan bahasa lainnya, (bahasa daerah).

Dalam pengertian singkat, bahasa ibu adalah bahasa daerah. Bahasa yang dikenalkan sejak lahir ini mampu dijadikan pondasi awal pengenalan pendidikan karakter sejak dini. Melalui bahasa ibu pula secara tidak langsung juga ikut berperan menjaga warisan budaya dan sastra, dengan kata lain berperan serta dalam menegakkan jati diri bangsa.

Berbicara mengenai bahasa, kental korelasinya dengan kebudayaan. Sebagaimana pengakuan Koentjaraningrat yang menyatakan jika bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Sistem atas hasil karya, cipta, rasa, dan karsa itulah yang kemudian sesuatu bisa dinyatakan sebagai kebudayaan. Oleh karenannya bahasa menjadi satu hal yang patut mendapatkan apresiasi akan hal itu. Tanpa bahasa manusia mungkin tidak akan mampu mengenal yang namanya dunia secara luas.

Baca Juga :  TMMD-102 : Kapten Inf Asto Koordinasi Beberapa Tempat Pengobatan Masal

Mungkin yang saat ini dipertanyakan adalah mengapa bahasa erat hubungannya dengan kebudayaan?

Kalau disimak secara analogi, bahasa adalah tongkat petunjuk yang digunakan untuk mempermudah seseorang menjadi tahu dan mengerti dengan sesuatu hal. Nah, itu adalah analogi sederhananya, kalau ditinjau dari kebudayaan, bahasa merupakan perjalanan dari pemikiran manusia untuk memvisualkan penjabaran-penjabaran atas kebudayaan itu sendiri.

Jadi, kedekatan bahasa dengan kebudayaan itu sangat kental. Budaya adalah buah dari realisasi bahasa, sedangkan bahasa adalah adaptasi dari budaya.

Perkembangan Bahasa Ibu, Esok.

Dewasa ini sebagian masyarakat sudah mengalami pergeseran dalam hal kebahasaan, mungkin karena modernisasi atau paradigma berfikir masyarakat setingkat lebih maju.

Baca Juga :  Srikandi Kelurahan Sambut Tim Monitoring dan Evaluasi 

Fenomena tentang bahasa ibu seharusnya ikut menjadi perhatian khusus bagi siapapun yang mendikusikannya. Kepopuleran bahasa ibu dari hari ke hari kian tergerus oleh erosi zaman, tidak banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu hal yang kuno. Padahal jika ditelisik secara kasta, bahasa ibu adalah salah satu pendukung bahasa Indonesia, yang di dalamnya berisi tentang nilai-nilai cinta tanah air dan jati diri bangsa.

Melalui berbagai pengakuan, perlu dilanjutkan lagi tongkat-tongkat estafet bahasa ibu agar tidak tertanggalkan oleh modernisasi dari luar Indonesia. Sebagai masyarakat yang cinta tanah air Indonesia sudah sepantasnya pula untuk cinta dengan bahasa ibu (bahasa daerahnya). Baik itu Jawa, Sunda, Sumatra, Sulawesi, Bali, Kalimantan, Papua, dll, semuanya perlu menghidupkan bahasa ibu sebagai bentuk khazanah dialektika kedaerahan. Ini dilakukan sebagai wujud cinta dengan nusantara atau Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah Bahasa Persatuan, sedngkan Bahasa Ibu adalah Bahasa Kedaerahan. Mari bersinergi sukseskan membangun negeri.

“Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional”

 153 total views,  4 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!