UA-163642268-1

Bangkalan Zona Merah : Libatkan Kyai dan Ulama, Tekan Kasus Covid-19 Agar Tidak Meluas


ARYA-MEDIA | MADURA – Kasus penyebaran Covid-19 di Bangkalan, Madura Jawa Timur, meledak pasca Hari Raya Idul Fitri tahun 2021. Hal ini dibuktikan dari peta sebaran Covid-19 Jawa Timur, bahwa Bangkalan telah berstatus zona merah.

Selain jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Bangkalan yang semakin banyak, ada 25 kasus pasien baru terkonfirmasi positif dan 2 pasien Covid meninggal, serta 17 orang dinyatakan suspek virus corona.

Berdasarkan data akumulatif per tanggal 6 Juni 2021, jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Bangkalan, Madura, sebanyak 1.779 orang. Sedangkan, jumlah pasien sembuh 1.520 orang, pasien Covid-19 meninggal 180 orang, dan kasus Covid-19 aktif di Bangkalan, Madura kini 79 orang.

Menanggapi hal tersebut, para kiai dan ulama di Bangkalan juga ikut proaktif memberikan himbauan kepada warga untuk menekan angka penyebaran Covid-19 agar todak semakin meluas.

Baca Juga :  150 Delegasi ASEAN Bakal Hadir pada AJAFA-21 RLF Ke-25 di Bali

Para kyai dan ulama di Bangkalan juga memberikan himbauan dalam setiap kesempata, agar masyarakat Kabupaten Bangkalan konsisten menerapkan protokol kesehatan 3M baik di masjid, surau dan langgar. Demikian juga pesan berantai juga tersebar melalui berbagai media sosial.

Sementara, anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Freddy Poernomo, meminta kepada jajaran forum pimpinan daerah (Forkopimda) untuk duduk bareng dengan melibatkan para ulama dalam menekan penyebaran Covid-19 di Bangkalan, agar tidak semakin meluas ke wilayah lain.

“Madura itu daerah santri. Untuk mengatasi problem itu, ya tokoh-tokoh agama atau ulama diajak dan terlibat dalam pencegahan meluasnya penyebaran” ujar Freddy, Senin (07/06).

Baca Juga :  Mbak Puti Bersama Mbah Kung Blusukan Kepasar Dengarkan Aspirasi Rakyat

Politisi Partai Golkar itu juga menegaskan, agar Pemerintah Provinsi Jatim, Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan, berupaya menekan penyebaran Covid-19 dengan cara sesuai kultur masyarakatnya masing-masing.

“Kalau di Surabaya insyaAllah ketat. Kultur masyarakat Surabaya beda dengan Madura, Kalau di Madura harus melibatkan tokoh informal atau kiai,” terangnya.

Pentingnya peran kiai dan ulama sangat luar biasa untuk memberikan keteladanan, hal tersebut pernah disampaikan dalam webinar Katadata “Bagaimana Menerapkan 3M di Pondok Pesantren?” oleh Kepala Subdit Pendidikan Pesantren Direktorat Pendidikan Pondok Pesantren Kementerian Agama Bapak Basnang Said.

Baca Juga :  Update Covid-19 Magetan : 12 Pasien Dinyatakan Sembuh, Bertambah 8 Orang Magetan Terconfirm Positif

Di sisi lain, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Yayasan Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang Neng Azah juga mengatakan, pihaknya bisa menjadi pengawas sekaligus contoh bagi para santri dalam penerapan 3M.  “Misalnya, kiai mengajar dengan memakai masker, maka anak-anak akhirnya juga memakai masker,” ujar Azah.

Senada diungkapkan anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Abdul Halim mengaku prihatin adanya tiga tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dunia. Ia berharap, masyarakat di Madura tetap tenang dan tidak panik, serta selalu menerapkan prokes untuk mencegah penularan Covid-19.

“Masyarakat tetap tenang dan tidak panik, tapi jangan sampai lengah dan meremehkan wabah ini,” tutup Halim. (Redk)

 374 total views,  2 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!