Belum Ada Kejelasan, Penyamak Kulit Dengan DLH Magetan Saling Menyalahkan


ARYA-MEDIA, Magetan – Carut marut polemik pencemaran lingkungan yang berasal dari penyamak kulit di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kab. Magetan, masih belum menemukan titik temu sebagai formula penangan limbah B3, efek dari industri tersebut.

Hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta OPD terkait berusaha mencari jalan keluar dalam mengantisipasi dampak lingkungannya. Untuk hasil uji laboratorium dengan mengambil sampel dari air sungai di Desa Mojopurno, sampai saat ini masih menunggu hasil dari uji tes lab yang dilakukan bulan lalu.

“Hasilnya masih belum keluar, kita masih menunggu hasilnya. Apakah di ambang batas atau tidak pasti nanti akan kelihatan”, ucap Saif Muchlissun Kepala DLH Kab. Magetan, Jum’at (8/2/2019).

Baca Juga :  Banyak Pelaksana Proyek Mengabaikan SOP, Membuat Ketua DPRD Geram Bakal Lakukan Sidak

Disisi lain Kasi Penegak Hukum Lingkungan Kab. Magetan, Mitro Wibowo mengatakan, bahwa setiap enam (6) bulan sekali pihaknya mengadakan sosialisasi dengan mengundang pelaku industri penyamak kulit yang berada di Desa Mojopurno maupun LIK, namun hanya sedikit yang menanggapinya seakan tidak mementingkan akan hal itu.

“Setiap enam bulan sekali kami mengundang para penyamak kulit untuk dilakukan sosialisasi. Tapi hanya sedikit yang mau datang”, kata Mitro.

Menurutnya, upaya Pemkab melakukan sosialisasi untuk mempertanyakan bagaimana hasil dari industri kulit sekaligus dampak lingkungan yang diakibatkan, sebagai penangan limbah B3 yang dihasilkan. Jadi bukan hanya pihak Pemerintah saja yang melakukan uji laboratorium, tapi pelaku industri dan penyamak kulit juga ikut bertanggungjawab untuk melakukan tes lab.

Baca Juga :  "Pers Tour Goes To Bromo", Jalin Sinergitas Antara Pemerintah Dengan Jurnalis

“Tujuannya adalah untuk menanyakan perkembnagan industri para penyamak kulit dan dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkannya. Agar setiap enam bulan kami dapat memantau dampak lingkungannya”, ungkap Mitro kepada Arya-Media (8/2).

“Mereka harusnya menyerahkan hasil lab ke kita setiap 6 bulannya, kewajibannya harusnya gitu. Sedangkan para penyamak kulit di Mojopurno tidak ada tindakan untuk melakukan uji lab tersebut”, imbuhnya.

Di tempat berbeda, Rusdin selaku Kepala Desa sebagai penanggungjawab pemegang wilayah Desa Mojopurno, Kec. Ngariboyo, Magetan mengatakan, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) tidak mengetahui akan hal tersebut. Justru Dia mengelak dengan alasan baru menjadi Kepala Desa (Kades) di Desa Mojopurno, padahal Kades Rusdin mengikuti Pilkades serentak tahun 2017 lalu, dan dilantik pada bulan Desember 2017.

Baca Juga :  Kajari Magetan Lantik 2 Pejabat Baru

“Saya khan baru mas… menjabat kepala Desa Mojopurno, jadi kami tidak tau kalau dinas LH mengundang para penyamak kulit untuk hal itu. Coba saya cross cek, nanti akan kami tanyakan kepada mereka mas”, pungkas Kades.

Diberitahukan bahwa, awal bulan Januari lalu ditemukan limbah cair yang mengalir ke sungai Desa Mojopurno, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan. Dari pantauan media, air yang bercampur dari sisa hasil pengolahan industri kulit tersebut tampak berwarna hitam pekat dengan bau yang menyengat. (ren)

Baca juga : Tanggapan DLH Terhadap Penyamak Kulit Di Mojopurno Bila Berdampak Pada Lingkungan

 1,639 total views,  13 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!