Covid-19 : Status Sosial, Dan Sensus Penduduk 2020


ARYA-MEDIA, Magetan – Perubahan merupakan keniscayaan, berdamai dengan perubahan jalan satu-satunya untuk bertahan bahkan  menuju sukses.

Kita sebagai makhluk yang oleh Sang Pencipta dilengkapi akal dan pikiran, tentu tidak akan disia-siakan di setiap saat dan dimanapun. Saat ini disemua tempat diseluruh dunia tidak ada yang bisa dikatakan bersih dan bebas dari penyebaran Virus Corona. Virus yang mematikan ini, dampaknya luar biasa terhadap berbagai aspek kehidupan. Perlu kita ketahui, virus ini tidak menunggu kita, siap atau tidak siap, baik dari aspek kesehatan maupun aspek sosial dan ekonomi. Kejadian ini tidak bisa kita pandang remeh, virus corona di Negeri kita sudah menelan korban meninggal dunia lebih dari seribu jiwa. Pertumbuhan ekonomi kita rontok tinggal 2,7 dari target 5,2 dan daya beli masyarakat turun drastis, belum lagi ratusan ribu tenaga kerja diseluruh Indonesia kena PHK.

Perubahan Piramida Sosial

Dengan adanya corona yang mewabah sejak awal tahun 2020, tidak ada satupun negara yang kuat terhadap goncangan virus ini. Berkaca dari Amerika negara adi daya yang konon katanya super power, ternyata carut marut hingga perekonomianya ikut terdampak. Belajar dari kejadian Amerika sebenarnya di Negara kita tidak jauh berbeda, bahkan memaksa piramida sosial berubah drastis, masyarakat kelas menengah terdegradasi menjadi masyarakat miskin secara otomatis jumlah masyarakat miskin meningkat drastis. Sudah terjadi di depan mata, bahwasanya banyak yang beralih profesi karena banyak berbagai industri yang tidak beroperasi karena corona dan kebijakan PSBB. Sudah menjadi kenyataan pula perubahan terjadi misalnya, dari pramigari menjadi pramuniaga, pramugara bekerja pengendara ojol, yang punya pekerjaan dirumahkan bahkan menjadi pengangguran, jumlahnyapun mencapai angka ratusan ribu.

Untuk memulihkan keadaan ini bukan hanya dibutuhkan waktu yang lama, namun kesiapan mental masyarakat. Selama ini pemerintah masih berfikir solusi jangka pendek, terbukti pemerintah mengeluarkan stimulus-stimulus yang bersifat jangka pendek.  Sejatinya yang dibutuhkan adalah membangun mental dari segala aspek kehidupan pasca wabah covid. Yang dikhawatirkan, kemunduran ini bersifat radikal kembali jaman neo klasik sebagaimana diungkapkan ekonom terkenal Adam Smith. Kita akan kembali era berternak atau bertani karena berbagai industri diperkotaan sudah tidak beroperasi sementara kaum urban kembali ke desa masing-masing.

Sensus Penduduk 2020

Pada tahun ini sebenenarnya Indonesia punya hajat besar, selain Pemilukada yakni sensus penduduk. Bahkan sudah dimulai dengan cara on line, dan bahkan sebagian warga yang melek internet sudah melakukan dengan cara on line. Sensus ini sebuah momentum yang amat penting untuk mendapatkan data sebagai upaya keberlangsungan  mengelola negara yang lebih baik dimasa yang akan datang. Namun dengan adanya wabah covid-19 ini, kegiatan sensus penduduk terabaikan. Padahal di dalam pelaksanaanya ada makna yang sangat luar biasa untuk mengetahui piramida sosial di republik ini. Bahkan, ada masalah yang lebih esensial yakni di tahun 2025 awal bonus denografi di Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik pada tahun 2035, akan terjadi masalah sosial. Ini disebabkan minimnya lapangan pekerjaan karena lambatnya pemulihan ekonomi dampak corona. Monentum sensus penduduk 2020 sebenarnya sangat tepat untuk menyongsong era bonus demografi, namum takdir Allah berkehendak lain.

Tentu kita tidak ingin keterpurukan ini berlangsung lama, untuk itu mulai Pemerintah Pusat khususnya melalui Kementerian, Lembaga, Badan Negara sampai dengan pemerintah Desa harus berfikir keras dan jangka panjang. Membagi sembako dan bantuan uang sebagai stimulus jangka pendek harus digeser secara perlahan dan pasti menuju revolusi mental yang sebenarnya hingga masyarakat bisa survive dipasca wabah. Selanjutnya, bagaimana data yang diharapkan dari sensus penduduk? Menurut hemat saya, sensus harus tetap jalan, tidak boleh karena ada wabah sensus diabaikan. Karena data merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan Negara. Tanpa data, bagaimana pemerintah akan menyusun sebuah kebijakan?.

Dengan data hasil sensus penduduk, saat ini kiranya bisa membantu memberikan informasi untuk pemulihan dampak wabah corona. Semua sepakat bahwa penanganan yang terjangkit dan pencegahan covid sangat penting dan mendesak, namun yang dikhawatirkan jika wabah ini akan berlangsung lama, sementara belum ada perencanaan, penanganan dampaknya dan tidak ditunjang data yang bagus, maka kita akan menanggung akibat dalam waktu yang panjang.

Sudah saatnya difikirkan keberlangsungan kehidupan jangka panjang, jika tidak ingin terjadi kerawanan sosial dimasa yang akan datang akibat dampak corona dan bonus demografi.

Semoga Pemerintah Pusat sudah punya skenario yang baik untuk pemulihan yang akan datang, namun jika belum segera bangkit dan sadar serta mempersiapkan secara baik dan matang.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan bagi yang menjalankan

Oleh : Eka Saputra*

*Mahasiswa Pascasarjana, Universitas Slamet Riayadi Surakarta.

 569 total views,  1 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!