UA-163642268-1

Gebyar Labuhan Sarangan : Lestarikan Budaya Larung Tumpeng Gono Bahu Sebagai Promosi Wisata


ARYA-MEDIA, Magetan – Prosesi Ritual Larung Sesaji Telaga Sarangan yang diadakan setiap satu tahun sekali menjelang bulan ramadhan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan menggelar acara Festival Gebyar Labuhan Sarangan. Diawali dengan kirab Tumpeng Gono Bahu, acara digelar di kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Minggu, (05/04/2019).

Festival Gebyar Labuhan Sarangan yang merupakan tradisi turun temurun tersebut, membuat ribuan pengunjung membanjiri Telaga Sarangan yang merupakan icon wisata Magetan. Terlihat dari animo masyarakat mulai dari pagi hari berbondong-bondong memadati seputar telaga untuk menyaksikan arak-arakan pasukan pengawal diiringi dengan aneka hasil bumi dari hasil pertanian seperti buah dan sayur, serta tumpeng raksasa Gono Bahu dengan tinggi 2 meter.

Foto : Saat Prosesi Penyerahan Tumpeng Gono Bahu Oleh Sesepuh Desa Kepada Bupati Magetan.

“Acara ini, merupakan tradisi turun menurun dari masyarakat Sarangan. Ini merupakan kegiatan Bersih Desa, akan tetapi oleh Pemekab dikemas menjadi Festival Gebyar Labuhan Sarangan,” kata Suprawoto Bupati Magetan.

Baca Juga :  Diguyur Hujan Berjam-jam, Jembatan Penghubung Desa Ngengor Ambrol

Bupati menjelaskan, Sebenarnya kegiatan tersebut dilakukan penduduk Sarangan pada hari Jum’at Pon. Namun untuk menarik wisatawan, Pemkab Magetan membuat dua (2) kegiatan yakni dengan Festival Gebyar Labuhan Sarangan untuk memanjakan para wisatawan yang sedang berlibur.

“Tradisi Bersih Desa pada hari Jum’at tetap dilakukan oleh warga sini (Sarangan red). Karena hari Jum’at bukan hari libur, maka Pemkab mengadakan Festival ini pada hari Minggu. Agar para pelancong yang datang dapat berlibur dengan menikmati acara yang unik ini,” terangnya.

Baca Juga :  Pasiter mengundang Toga dan Tomas Hadir dalam Wasev Tim Mabesad

Kegiatan ini, lanjut Bupati Magetan, adalah merupakan bentuk syukur masyarakat kelurahan Sarangan terhadap hasil bumi dan rejeki yang dilimpahan karena alam Sarangan. Sedangkan makna dari tumpeng yang diarak dan ditenggelamkan di  telaga Sarangan menurut Suprawoto adalah, merupakan wujud syukur masyarakat Sarangan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Jadi gak ada salahnya mereka merayakan dengan menenggelamkan tumpeng di tengah telaga, karena sebagai wujud syukur atas limpahan rejeki yang didapatnya,” jelasnya kepada Arya-Media (5/4).

Rombongan Bupati & Wakil Bupati Magetan, Saat Melarungkan Tumpeng Gono Bahu Di Tengah Telaga Sarangan.

Ditempat terpisah, Plh. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kab. Magetan,  Venly Tomi Nicolas menyampaikan, bahwa agenda Gebyar Labuhan Sarangan tidak hanya sebagai upaya melestarikan budaya yang menjadi bagian kearifan lokal, namun juga sebagai upaya promosi wisata. “Banyak agenda yang telah dilaksanakan, antara lain Festival becak Lawu, atraksi Ski Air, dan acara puncaknya yaitu Larung Tumpeng Gono Bahu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kapolri Keluarkan Telegram, 5 Hal Yang Harus Dijalankan Kapolda

Sementara, kegiatan Festival Gebyar Labuhan Sarangan tersebut, selain Bupati Magetan Suprawoto dan Wakil Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti, diikuti oleh, Sekertaris Daerah (Sekda), jajaran Forkopimda Magetan, Pimpinan OPD, Sesepuh Desa dengan seluruh perangkat Desa/Kelurahan Sarangan, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, serta melibatkan ratusan orang untuk melakukan prosesi tersebut. (ren)

 6,212 total views,  4 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!