UA-163642268-1

Keluarnya Limbah Kulit Di Mojopurno, Membuat Aktivis Lingkungan Hidup “Angkat Bicara”


ARYA-MEDIA, Magetan – Sudah yang kesekian kalinya, sungai yang berada di Tugu, Desa Mojopurno, Kec. Ngariboyo, Magetan, terus digunakan sebagai pembuangan limbah sisa hasil produksi bagi penyamak kulit di Desa tersebut.

Seperti yang terjadi pada hari Sabtu kemarin (13/4/2019), aliran sungai panasan Desa Mojopurno tersebut, sedang dialiri air limbah sisa hasil produksi kulit dari penyamak kulit yang berada di Desa tersebut. Dan ini bukan hanya sekali ini saja, bahkan sudah berkali-kali terjadi.

“Kemarin waktu saya melintasi jalan tersebut, dari jauh sudah tercium baunya sangat busk. Setelah saya dekati ternyata benar, bahwa air sungai tersebut berwarna kecoklatan yang bercampur dengan busa berwarna putih,” kata Khorif warga setempat.

Baca Juga :  Bupati Pantau Tempat Pemungutan Suara, Pemilu 2019 Di Magetan Berjalan Lancar

Hal ini, ditanggapi oleh Rudi Setiawan seorang aktivis lingkungan hidup Kabupaten Magetan. Ia menyayangkan kepada Pemkab Magetan dalam mengatasi limbah yang selama bertahun-tahun ini belum terselesaikan.

Rudi Setiawan (Rugos), Aktivis Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan.

“Masalah limbah ini sudah bertahun tahun terjadi, tapi peran Pemkab selama ini hanya begini-begini saja. Dan rencana Pemkab akan merelokasi LIK pun juga belum ada kejelasan,” kata Rudi atau dikenal dengan Rugos, Senin (15/4).

Rudi mengatakan, terkait masalah kulit memang akan ada yg di korbankan, akan tetapi kalau komponen Pemerintah Daerah (Pemda) bagus, akan terjadi keseimbangan serta kelancaran dalam pembangunan dan kelestarian lingkungan. “Dalam hal ini, harus ada strategi yang mengarah kesitu, sebab selama ini pencemaran dan perusakan lingkungan selalu terjadi dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Baca Juga :  Diklat Jurnalistik Angkatan 1 Tingkat Nasional 2018, Hadirkan Prof. M. Moh. Khusnurridlo, M.Pd

Sedangkan untuk relokasi, lanjut Rudi, selama ini masyarakat selalu disuguhi dengan janji php, karena relokasi yang dijadikan prioritas gubernur dan bupati, belum ada titik terang mengenai ganti ruginya. “Seharusnya kajian mengenai relokasi tersebut disampaikan ke masyarakat supaya masyarakat bisa mengawasi,” terangnya kepada Arya Media, (15/4).

Rudi mengaku, bahwa tidak gampang membuat lingkungan industri berbasis kulit atau LIK, dengan limbah sebagai sisa produksinya. Akan tetapi, selama waktu 3 tahun hingga sampai saat ini masih belum terealisasi sejak sebelum pergantian Bupati. “Sekarang kita hitung, sebenarnya PAD dari LIK itu seberapa besar untuk mensuport anggaran belanja asli Magetan, dibanding dengan pencemaran serta kerusakan lingkungan yang merugikan warga dan menyakitkan masyarakat wong cilik. Sehingga, dapat ditemukan kesimpulan bahwa keberadaan LIK itu dipaksakan atau tidak,” jelasnya.

Baca Juga :  Minimalisir Rokok Bodong, Pemkab Ngawi Sosialisasikan Ketentuan Di Bidang Cukai

Rudi menambahkan, jika masih tidak ada penjelasan, maka keberadaan LIK tersebut terkesan dipaksakan, meskipun bisa meningkatkan ketenagakerjaan dan dijadikan ikon Magetan sebagai penghasil kulit yang menjadi tempat wisata. “Pertanyaannya, semua itu apa bisa mendongkrak Anggaran Belanja Daerah…?, karena yang ditakutkan hanya oran-orang tertentu yang diuntungkan,” imbuhnya.

“Dari pada banyak masyarakat yang dikorbankan, alangkah baiknya hal itu dikaji ulang. Karna banyak daerah yang tidak mempunyai LIK, tapi bisa maju,” pungkasnya. (ren)

 1,402 total views,  4 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!