UA-163642268-1

Khofifah dan Cak Nur Panen “Melon” Bentuk Kotak Dan Hati


ARYA-MEDIA, Sidoarjo – Upaya petani untuk melakukan panen buah melon, membutuhkan kreasi dan inovasi di era milenial sekarang ini, termasuk di sektor pertanian. Tujuannya agar bisa mengikuti perkembangan jaman sekaligus mengikuti selera pasar. Salah satunya adalah pertanian buah melon yang digarap UPT.

Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (UPT. PATPH), yang berlokasi di Desa Lebo Sidoarjo, mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Darmawangsa. Seperti pada kegiatan panen melon prima, yang bentuk buahnya berbeda daripada umumnya, karena melon tersebut berbentuk kotak dan hati.

“Melon ini unik, karena bentuk buahnya berbeda pada umumnya,” kata Gubernur Jawa Timur, Rabu (15/5/2019).

Baca Juga :  Gempur Laporkan Data Proyek Kontraktor Ke Kejaksaan Negeri

Gubernur menjelaskan, melon prima model ini memiliki daya tarik tersendiri dan bisa menaikkan harga jual di pasaran. Maka dari itu bisa dijadikan percontohan bagi para petani melon di wilayah Jawa Timur sehingga bisa meningkatkan kualitas ekspor, pengembangan pasarnya untuk kalangan menengah ke atas. “Saya dapat laporan kalau melon yang dikembangkan UPT. PATPH Lebo, Sidoarjo ini sudah masuk pasar ritel modern,” jelasnya.

Baca Juga :  Update 23 Agustus : 8 Pasien Sembuh, 2 Orang Terconfirm Positif dan 2 Orang Meninggal Dunia

Disisi lain, Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin meminta pada UPT. PATPH untuk menyiapkan brand atau merk, agar komoditas ini lebih mudah dan cepat dikenal oleh konsumen. “Ini harus disiapkan brand merk nya, supaya jenis melon seperti ini cepat dikenal konsumen,” pungasnya, (16/5).

Diketahui sebelumnya, Khofifah yang didampingi Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, menyempatkan diri untuk memanen melon jenis Golden Varietas dan Golden Langkawi yang dikembangkan secara modern oleh UPT. PATPH diatas lahan seluas 3,2 hektar.

Baca Juga :  Satgas TMMD 104 Kodim 0804/Magetan Hijaukan Desa Poncol

Komoditas sebanyak 3.412 tanaman itu, dibudidayakan dengan sistem Screnn House yang dilengkapi dengan irigasi tetes untuk menghemat biaya pengairan dan mengurangi penggunaan pestisida hingga siap dipanen dalam waktu kurang lebih tiga bulan. (bag/ops)

 914 total views,  2 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!