Mahalnya Pendidikan, Dirasakan Masyarakat Saat Pandemi


ARYA-MEDIA, Sumenep – Banyak kritik kepada Mendikbud Nadiem keterkaitan penerimaan Siswa baru dan Mahasiswa baru. Kritikan tersebut dilontarkan oleh Team 16 Sumenep Madura Jawa Timur, Selasa (4/8/2020).

Gerakan dari gabungan 4 Elemen terdiri dari, Advokat, LSM, Wartawan dan Masyarakat tersebut, sebelumnya telah melakukan Permohonan Hak Uji Materi Permendikbud No 25 Tahun 2020 ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Pada masa pandemi saat ini, kontroversi dari wali murid juga terjadi pada penerimaan Siswa Baru TA 2020/2021 di SMA Negeri 1 Kalianget Sumenep Madura Jawa Timur. Begitu mahalnya pendidikan di negeri Indonesia, terasa bagi klas Ekonomi rakyat dibawah rata rata

Team 16 Sumenep juga geram dengan mainset pendidikan di kabupaten Sumenep. Secara masif di kabupaten Sumenep melakukan penarikan uang seragam dan peralatan lainnya yang dirasa sangat mahal.

“bikinlah harga semurah murahnya. Ingat… masyarakat saat ini lagi gonjang ganjing perekonomiannya karena dampak dari covid 19,” tegas Fandari, ketua Team 16, Selasa (4/8).

Team 16 juga mencoba membuat gebrakan bagaimana sebenarnya supremasi hukum khususnya didunia pendidikan. Karena selama ini ada dasar hukum seperti PP No.17 tahun 2010 pasal 181 dan Permendikbud No. 45 tahun 2014 pasal 4, yang selama ini belum diterapkan.

Pada Senin (3/8) kemarin, Team 16 melaporkan SMA Negeri 1 Kalianget ke Kejaksaan Negeri Sumenep, dengan tujuan penyegaran di dunia pendidikan Sumenep. Terkait pungutan biaya yang di keluarkan sekolah dengan dibalut koperasi sekolah, apakah melanggar aturan atau tidak.

“bukti bukti sudah kita penuhi, dan sudah kita masukkan laporan ke kejaksaan Negeri Sumenep. Tinggal aparat penegak hukum untuk mengapresiasi laporan kita,” ungkapnya. (pr@)

 328 total views,  7 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!