UA-163642268-1

Menyalahi Aturan, RSUD Sumenep Diduga Menolak Pasien KIS


ARYA-MEDIA, Sumenep – Sistem manajemen pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai disoroti sejumlah aktifis yang berada di Kabupaten Sumenep.

Beberapa hari yang lalu, seorang pasien atas nama Sumiya, warga Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, yang hendak berobat dengan menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), diduga telah ditolak pihak Rumah Sakit milik Pemkab Sumenep, untuk rawat inap karena menggunakan kartu KIS.

Hal itu Diungkapkan oleh Supardi Spd. Ketua LSM Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GARIS). Ia mengatakan bahwa, kronologi bermula terjadinya penolakan terhadap pasien tersebut, terjadi pada hari rabu tanggal 15 Mei 2019 sekitar Pukul 11:00-12:00 Wib. Dimana pasien atas nama Sumiya yang ingin dirawat inap di RSUD dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep, diduga ditolak oleh petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Menurut keterangan dari keluarga pasien, alasan dari petugas di IGD menolak karena ruang/kamar rawat inap untuk pasien pengguna Kartu Indonesia Sehat (KIS) sudah penuh. Padahal, waktu berada Instalasi Gawat Darurat (IGD) pasien sudah mendapatkan pelayanan dari perawat dan juga dokter yang bertugas di IGD,” kata Supardi Jum’at (24/05), saat melakukan klarifikasi di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Baca Juga :  1001 Kasus Terungkap Dalam Operasi Sikat Semeru 2017

Anehnya, Lanjut Pardi, sapaan akrab Supardi, penolakan terhadap pasien atas nama Sumiya ini setelah pihak RSUD dr. H. Moh. Anwar, dalam hal ini petugas di IGD mengetahui jika pasien menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Bahkan petugas di IGD rumah sakit itu terkesan mengusir pasien, karena menyuruh pasien untuk di bawa atau di rawat inap di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget,” terangnya.

Secara aturan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien, dan saya yakin semua petugas di RSUD dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep baik dari Level terbawah sampai Level tertinggi, sudah tau kalau menolak pasien itu melanggar aturan dan bisa dipidana. “Tapi, kenapa hal ini tetap dipaksakan oleh pihak rumah sakit yang bertugas di ruang IGD,” jelasnya.

Baca Juga :  TMMD Regional Ke-111 Tahun 2021 di Magetan Resmi Dibuka

Di tempat yang sama Direktur Utama (Dirut) RSUD dr. H. Moh Anwar Kabupaten Sumenep dr. Erliyati mengatakan bahwa, belum bisa memberikan keterangan secara detail terkait kasus penolakan terhadap pasien atas nama Sumiya tersebut. Dengan alasan, pihaknya akan menelusuri terlebih dahulu kasus penolakan tersebut.

“Jadi kita akan cek dulu siapa yang bertugas di IGD pada waktu itu, dan hasil diagnosanya itu apa? tapi secara aturan kita (Rumah Sakit) memang tidak boleh menolak pasien,” kata dr. Erliyati, di ruang kerjanya, Jum’at (24/05).

Direktur RSUD juga menjelasakan, bahwa terlepas dari kasus penolakan terhadap pasien atas nama Sumiya tersebut, kapasitas TT di RSUD dr. H. Moh. Anwar Kabupaten Sumenep itu totalnya ada 200 TT. “Kita pengennya itu tetap ingin melayani pasien rawat inap, walaupun diletakkan di lorong, tapi kalau dokumen kita itu nanti ketahuan oleh team akreditasi, maka nilai rumah sakit ini akan jelek,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemeran Video Dewasa Viral di Medsos Diamankan Polisi

Saat di tanya kapan kira-kira pewarta dan ketua LSM Garis bisa mendapatkan keterangan secara detail terkait dengan dugaan kasus penolakan terhadap pasien atas nama Sumiya tersebut..? dr. Erliyati meminta kepada wartawan dan ketua LSM Garis untuk kembali lagi pada hari Selasa tanggal 25 Mei 2019. “Karena Kepala bidang (Kabid) saat ini lagi tugas di luar, jadi kita bisa ketemu lagi hari Selasa,” pintanya.

Sedangkan, informasi yang dihimpun awak media dilapangan, sejak mendapat penolakan, akhirnya pasien dibawa oleh pihak keluarganya ke rumah sakit Sumekar milik swasta untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. (mrw/tim/ops)

 4,132 total views,  6 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!