Ngawi Tunjukkan Pada Dunia Sebagai Kota Bersejarah Peradapan Manusia Purba


ARYA-MEDIA, Ngawi – Tugu Jam yang berusia 34 Tahun yang tegak berdiri di perempatan Kartonyono ( Jl. PB Sudirman, Jl,Basuki Rahmad, Jl.Ahmad Yani dan Jl Yos Sudarso, akhirnya dirobohkan alat berat, Sabtu, (29/06/2019)

Pada mulanya, Tugu jam Kartonyono di bangun di pertigaan Kartoyono pada tahun 1983. Setelah Pemkab Ngawi membangun jembatan Dungus penghubung Kota Ngawi – Cepu – Caruban, secara otomatis pertigaan Kartonyono dengan adanya jalur baru itu berubah menjadi perempatan Kartonyono.

Baca Juga :  Peran Penting Tim Tukang Satgas TMMD-104

Kartonyono sendiri bermula hanya mempermudah masyarakat, mengingat lokasi jalan dengan mengkaitkan nama Kartoyono. Kepala Desa Margomulyo yang kebetulan rumah kades berada di lokasi pertigaan jalan itu sebelum berubah menjadi per-empatan, yang akhirnya mendarah daging di sebut “Prapatan Kartonyono”.

Di robohkanya tugu itu, sesuai rencana Pemkab Ngawi mengantikan Tugu Jam menjadi Tugu Patung Manusia Purba dan Gading Gajah Purba, dengan warna Emas hasil Desain Arsitektur asli putra Ngawi, dan Triyono seorang yang terpilih dari 5 nominasi karya arsitektur dari 28 karya arsitektur yang di lombakan oleh Pemkab Ngawi.

Baca Juga :  Magetan : Satu Pasien Dinyatakan Sembuh Dari Covid-19, Total Menjadi 38 Orang

Berdirinya tugu manusia purba dan Gading Gajah Purba yang menjuntai , selain memberikan wajah baru Kabupaten Ngawi, juga diharapkan menegaskan bahwa Ngawi sebagai salah satu kota bersejarah peradapan manusia purba yang sudah diakui dunia maupun Internasioanal.

Triyono adalah pemenang lomba karya arsitektur memaparkan, “Desain gading gajah purba dan manusia purba merupakan konsep khas sejarah peradapan manusia purba di Kabupaten Ngawi di era Pra-Sejarah yang telah menyedot penelitian para arkeolog seantero dunia”, ungkapnya.

Baca Juga :  Diduga Menghirup Gas Beracun, Sepasang Suami Istri Ditemukan Meninggal di Dalam Sumur

Triyono menambahkan, Konsep gading gajah purba yang menjuntai ke atas menembus langit, mempunyai filosofi sebagai wujud syukur teramat dalam pada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tujuh trap penompang gading gajah purba memiliki makna universal yang terproyeksikan pada peningkatan Ekonomi, Budaya, Pendidikan dan Teknologi”, pungkasnya. (BB/ops/redk)

 4,450 total views,  60 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!