UA-163642268-1

Penjelasan Kapolri : Cabut Telegram Larangan Media Siarkan Tindakan Arogansi Aparat Kepolisian


ARYA-MEDIA | JAKARTA – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, langsung gerak cepat mencabut telegram nomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021 tanggal (5/4/2021), terkait larangan menyiarkan tindakan arogansi aparat kepolisian. Hal itu dilakukan Kapolri setelah mendengar dan menyerap aspirasi dari kelompok masyarakat.

Listyo Sigit menjelaskan, niat dan semangat awal dari dibikinnya surat telegram tersebut, agar jajaran kepolisian tidak bertindak arogan atau menjalankan tugasnya, yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Sslain itu, Kapolri menginstruksikan agar seluruh personel kepolisian tetap bertindak tegas tapi juga mengedepankan sisi humanis dalam menegakan hukum di masyarakat.

“Arahan saya ingin Polri bisa tampil tegas namun humanis, namun kami lihat ditayangan media masih banyak terlihat tampilan anggota yang arogan. Oleh karena itu, tolong anggota untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di lapangan,” kata Sigit dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Baca Juga :  Jalan Santai Dalam Rangka Bersih Desa Sumursongo, Disambut Antusias Warga

Sigit menekankan, gerak-gerik perilaku anggota kepolisian selalu disorot oleh masyarakat. Pun mengingatkan, satu perbuatan arogan oknum polisi dapat merusak citra Polri yang saat ini sedang berusaha menuju lebih baik dan profesional.

“Jangan sampai ada beberapa perbuatan oknum yang arogan, yang dapat merusak satu institusi. Maka dari itu saya minta agar membuat arahan agar anggota lebih hati-hati saat tampil di lapangan. Jangan suka pamer tindakan yang kebablasan dan malah jadi terlihat arogan, karena masih sering terlihat anggota tampil arogan dalam siaran liputan di media. Hal seperti itu, agar diperbaiki, sehingga tampilan anggota semakin terlihat baik, tegas namun humanis,” terang Kapolri Sigit.

Baca Juga :  Gabungan LSM dan Massa Gerudug Pemda Pasuruan

Selain itu, Kapolri juga menjelaskan, dalam telegram yang sempat beredar, ternyata menimbulkan perbedaan penafsiran dengan awak media atau insan pers. “Kesalahan persepsi, dalam hal ini bukanlah media melarang meliput arogansi polisi di lapangan,” jelasnya, (6/4).

Menurut Sigit, semangat sebenarnya dari telegram tersebut adalah, pribadi dari personel kepolisian itu sendiri yang tidak boleh bertindak arogan.

“Jadi dalam kesempatan ini saya luruskan. Saya minta anggota untuk memperbaiki diri untuk tidak tampil arogan, namun memperbaiki diri sehingga tampil tegas, namun tetap terlihat humanis. Bukan melarang media untuk tidak boleh merekam atau menhambil gambar anggota yang arogan atau melakukan pelanggaran,” ujarnya.

Baca Juga :  Tasyakuran HUT Bhayangkara Ke-73, Polres Magetan Beri Penghormatan Kanaikan Pangkat

Sampai dengan saat ini, lanjut Kapolri menegaskan bahwa, internal Korps Bhayangkara masih memerlukan kritik dan saran dari seluruh elemen masyarakat. Sehingga, peran media sebagai salah satu pilar demokrasi akan tetap dihormati oleh Polri.

Disisi lain, dengan kerendahan hati, Kapolri menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyatakat, karena lahirnya perbedaan persepsi terkait dengan telegram tersebut.

“Kami juga butuh masukan dan koreksi dari ekternal untuk bisa memperbaiki kekurangan Polri. Oleh karena itu, saya sudah perintahkan Kadiv Humas untuk mencabut surat tersebut,” pungkasnya. (Redk)

 8,574 total views,  2 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!