Peringati Tahun Baru Islam, Pemkab Magetan Gelar Festival Seni Musik Ledhug 2018


Foto Salah Satu Perwakilan Kecamatan Yang Menampilkan Seni Musik Ledhugnya.

ARYA-MEDIA, Magetan – Dalam rangka hari jadi ke 343 kabupaten Magetan dan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) mengadakan Festival Seni Ledhug Tahun 2018 di Alun-alun jantung kota Magetan sekitar pukul 13.00 Wib, Selasa (25/9/2018).

Dalam acara tersebut dilakukan pembukaan secara simbolis dengan pemukulan bedhug oleh Bupati Magetan Dr. Drs. H. Suprawoto, SH. M.Si bersama Sekda Magetan Bambang Trianto, serta Kepala Disparbub, Bambang Setyawan, Dan Wakil Bupati Nanik Endang R bersama Kadin Kesehatan Dan Istri Sekda memukul Lesung sebagai tanda Festival Seni Musik Ledhug Tahun 2018 dimulai.

Seni Musik Ledhug dengan tema “Dengan Festival Kesenian Ledhug, Kita Lesrtarikan Budaya Demi Kokohnya Kebhinekaan Bangsa” yang di ikuti oleh beberapa Sanggar Seni Perwakilan dari 18 Kecamatan se-Kabupaten Magetan, dengan menampilkan atraksi pemukulan bedhug yang dipadu dengan tarian dari tiap-tiap Kecamatan.

Baca Juga :  Satgas TMMD-102 Benahi Jalan Racek Arah Wedusan Dan Lakukan Pembersihan

Bupati Magetan, Suprawoto mengatakan bahwa, festival ini adalah untuk melestarikan dan membudidayakan serta mempromosikan kearifan lokal sehingga musik tradisional Ledhug ini dilakukan. Menurutnya lesung itu bukan hanya untuk digunakan menumbuk padi saja, tapi banyak hal yang menurut kata orang dulu merupakan sesuatu untuk tradisi yang harus dilakukan untukl bermain musik pada waktu bulan purnama tiba.

Baca Juga :  Chief Representative JICA Indonesia Hadir dan Membuka Acara RLF di Bali
Bupati Bersama Sekda Dan Kadin Disparbud Sedang Memukul Bedhug Sebagai Awal Pembukaan Festival Musik Ledhug Dimulai.

“Festival ini bertujuan untuk melestarikan, membudidayakan dan mempromosikan kearifan lokal yang ada di Magetan, yang mana musik Ledhug itu merupakan kolaborasi dari musik seni lesung dan bedung yang di gelar setiap bulan Muharram atau tahun baru Hijriyah atau yang dikenal dengan bulan Suro” kata Soeprawoto.

Dikesempatan yang sama Bambang Setyawan menuturkan bahwa,Kolabarasi musik lesung dan bedug adalah budaya tradisional warga Magetan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu ini merupakan upaya untuk meningkatkan karya seni dan membentuk manusia seutuhnya dalam membudidayakan kesenian yang hampir tergerus oleh zaman.

Baca Juga :  Dirgahayu Indonesiaku Dari SMKN 1 Wonoasri

“Lesung itu digunakan untuk menumbuk padi dan bedug adalah sarana sebagai isarat atau tanda dalam memberitahukan sesuatu disaat ada kematian atau bencana. Ini adalah Budaya lokal yang harus dilestarikan sebagai budaya khas Magetan,” ungkapnya.

Diketahui, dalam penyajian musik dan gaya Ledug Suro ini dimainkan minimal oleh 15 pemain dan maksimal 20 orang pemain. Empat pemain memainkan lesung, dan Satu orang memainkan bedug, empat orang lainnya memainkan alat musik tambahan yaitu kendang, saron dan rebana, sedangkan sisanya sebagai vocal. Tergantung dari tema musik yang disajikan oleh sanggar seni yang mewakili tiap-tiap Kecamatan. (ren)

 2,557 total views,  3 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!