Sewu Tumpeng Dan Laku Bisu, Awali Kirab Tahunan Desa Purwodadi


Prosesi Sewu Tumpeng Dan Laku Bisu Dalam Acara Tahunan Desa Purwodadi.

ARYA-MEDIA, Magetan – Pagelaran tahunan yang dicanangkan Desa Purwodadi dengan nama “Gumelaring Kadipaten Purwodadi” berlangsung meriah. Perayaan tahunan yang dilakukakan ini adalah ke empat kalinya yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Purwodadi, mengadakan Kirab Benteng Purwodadi, Jum’at (31/8/2018).

Acara yang diselenggarakan di samping area benteng yang berada di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, mendapat antusias warga dan masyarakat yang ada disekitaran Desa Purwodadi. Terlihat ribuan penonton dari berbagai wilayah merangsek memadati perayaan tersebut.

Pembukaan Acara Oleh Pemkab Magetan Diwakili Kadin Diapora Bambang Setiawan.

Rangkaian acara yang diselenggarakan selama tiga hari kedepan, diawali hari Jum’at malam (31/8) dengan Sewu Tumpeng Mrih Rahayu, sebagai awal kegiatan dalam rangkaian pagelaran Gumelaring Kadipaten Purwodadi. Selanjutnya disuguhkan beberapa pagelaran seni Ketoprak Gabungan dari Srikandi Budaya yaitu, Tari Dewi Sri Simbatan, Wayang dan Bayang, diakhiri dengan kirab Lelaku Tan Wicara atau disebut dengan Lelaku Bisu.

Baca Juga :  1 Orang Tewas Tertabrak KA Dengan Kondisi Tubuh Hancur

Tak heran, masyarakat dari berbagai golongan, wilayah, Pemerintahan dari Disparbud dan segenap undangan memadati lokasi Benteng untuk melaksanakan kirab tersebut dengan mengitari kawasan benteng. Kirab tersebut dilakukan dengan ritual tradisional oleh ndalem keluarga besar Dipokusumo dan warga Purwodadi bersama terah Diponegoro dari Makasar dengan melakukan seperti kirab-kirab keraton.

Menurut keterangan Kepala Desa Purwodadi Suci Minarni yang merupakan keturunan pangeran Diponegoro, atau dengan sebutan Raden Nganten Suci Minarni mengatakan, Kegiatan ini adalah tahun ke empat pihak Pemdes melakukan kirab benteng purwodadi. Ini adalah suatu tradisi bagi warga Desa Purwodadi dengan ritual tradisonal yang harus dilestarikan.

Baca Juga :  Siaga Corona, Bupati Suprawoto : Seluruh THM di Magetan Harus Tutup

“kirab lelaku bisu adalah sesuatu tradisi sakral dengan berjalan mengelilingi benteng Purwodadi. Maksutnya adalah berjalan tanpa bicara dan tanpa lampu sambil berdo’a dengan tujuan agar khusuk dan kidmat,” kata Suci.

Sajian Seni Tari Dan Wayang Dari Srikandi Budaya.

Masih menurut Suci, acara ini juga bentuk dari nguri sejarah dan budaya yang ada di Purwodadi. “Kami ingin memperkenalkan bahwa di Purwodadi ini ada aset bersejarah dari anak Pangeran Diponegoro yaitu Pangeran Dipokusumo yang menjadi titisan Pangeran Diponegoro,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ngeri...!!! Kereta Api 86 SANCAKA Tabrakan Dengan Truk Trailler Di km. 215+800 paket JGMK-9

Endra Diponegoro yang merupakan terah Diponegoro perwakilan dari makasar mengatakan dalam sambutannya, sangat bangga dan berterimakasih sekali kepada keluarga besar Dipokusumo yang ada di magetan, serta masyarakat Desa Purwodadi yang telah menyelenggarakan acara ini. Serta ucapan hangat untuk Pemkab Magetan yang diwakili Disparbud beserta rombongan yang ikut andil dalam memeriahkan acara malam hari ini.

“Ini adalah satu satunya acara bersejarah yang harus kita dilestarikan. Dengan kegiatan seperti ini dapat menjalin tali silaturahmi antara titisan Pangeran Diponegoro yang berada di tanah Jawa ini. Dan juga terima kasih kepada keluarga besar Dipokusumo Magetan, karena telah mempertemukan terah Diponegoro yang lain yang berada di Jogya Jawa Tengah”, terangnya. (ren)

 1,295 total views,  3 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!