Sinau Bareng Bersama KJJT Kembalikan Marwah Jurnalistik


ARYA-MEDIA | Sidoarjo – Dalam menumbuhkan rasa semangat pada diri Jurnalis (Wartawan), Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) menggelar belajar dan diskusi bersama, guna memperjuangkan anti diskriminasi dalam hubungan hidup sosial. Senin (27/9/2020).

“Agar organisasi tidak mudah luntur dan terus hidup, salah satu kunci utama yang didorong KJJT adalah semangat egalitarian. Yakni semangat untuk memperjuangkan anti diskriminasi, karena kita semua adalah saudara,” kata Isma Hakim Rahmat, selaku bendahara KJJT, saat menghadiri pertemuan konsolidasi pembentukan KJJT Sidoarjo, Minggu (27/9) malam, di Sidoarjo.

Dijelaskan Isman, selain memperjuangkan semangat egalitarian anti diskriminasi, KJJT juga akan memberikan pembekalan kepada setiap anggota melalui pendidikan jurnalistik hingga menempuh jenjang Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers.

Menurutnya, dengan konsep model sekolah yang begitu unik, adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang berpendidikan layaknya di perguruan tinggi. “Karena kita langsung handeling secara step by step, dan langsung praktek dengan banyak pengayaan,” jelasnya.

Sementara, Ketua KJJT Slamet Maulana biasa disapa Ade mendukung dengan pembentukan KJJT Sidoarjo. Ia juga mendorong kepada anggota KJJT yang ada di daerah untuk segera menyusul pembentukan struktural kepengurusan, agar anggota KJJT yang ada di daerah tetap bisa solid agar rutin mengadakan pertemuan dengan KJJT di daerahnya untuk bisa bersama dan terus belajar.

“Kita lepas atribut, dan bersama-sama kita sinau bareng,” kata Ade.

Selain itu, dengan kegiatan sinau bareng ini, nantinya akan bisa mengembalikan khitrah dan marwah jurnalis sesungguhnya. “Seperti halnya wartawan berasa penyidik, wartawan berasa LSM, wartawan berasa sebagai aparat, dan masih banyak lagi. Ujung-ujungnya, mereka tidak bisa menulis berita layaknya produk jurnalistik.” Tandasnya.

Disisi lain, Pemimpin Redaksi Kabaroposisi.net  Prapto menegaskan, ” media verifikasi maupun belum, dan juga wartawan yang belum UKW jangan minder dalam berkarya, kami tegaskan bahwa uji kompetensi itu harusnya pimred kepada wartawannya. Kenapa demikian, karena PT dan struktur Redaksi lebih memahami tujuan dan visi misinya dalam berkarya.

“UKW bukanlah standarisasi wartawan, dan tidak fardhu bagi kami untuk ikut UKW.” tegas Prapto. (Pr@/Ren)

 323 total views,  9 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!