Sopir Dump Truk Ancam Wartawan dan LSM Pakai Clurit, Lapor Polisi Malah Di Suruh Damai


ARYA-MEDIA, Probolinggo – Tak mau didokumentasi dan dikonfirmasi, sopir dump truk yang lagi mengisi BBM Subsidi di SPBU Kademan Probolinggo, ancam wartawan RepublikNews dan anggota LSM LIRA pakai clurit. Kejadian ini terjadi dan bermula saat tim media ini mau mengisi BBM di SPBU Kademangan Probolinggo, dan beristirahat sejenak sambil ketoilet, Rabu pagi (22/01) pukul 01.00 WIB.

Tanpa sengaja, tim melihat ada satu kendaraan besar jenis dump truck juga mengisi solar di lokasi yang sama. Dalam membeli solar bersubsidi terlihat ada gelagat yang tak wajar. Disitulah rasa penasaran ingin melihat dan tim mencoba mendekat dan melihat, ternyata dum truck tersebut sedang memompa dari tangki samping yang sedang diisi bbm jenis solar kemudian langsung dipompa naik kedalam bak truck yang diduga ada tangki sudah dimodifikasi sebesar ukuran bak truck.

Saat Awak media Republik News beserta LSM LIRA mau konfirmasi ke pegawai SPBU, dihadang oleh supir dum truck dengan mengacungkan sebuah celurit sambari mengucap, “Saya disini beli siapa yang tidak terima,” umpatnya.

Menghindari hal yang tidak diinginkan, hari itu juga tim bergegas pergi dan langsung laporan ke Polisi, dengan mendatangi polres kota probolinggo (pukul 02.00 pagi). Disana, ditemui oleh saudara Yuauf, anggota yang kebetulan piket. Tim pun diminta menceritakan kronologis kejadian dari awal sampai akhir.

Dari Polres Kota, tim diarahkan ke Polsek Kademangan Probolinggo. Sesampainya di Polsek Kademanagan pukul 03.00 Wib, tim langsung pergi ke SPBU ditemani sama Dua (2) anggota Polsek salah satu bernama Hendra. Dan di area SPBU, tim ditemui Rohman salah satu oknum LSM yang memgaku dari LSM Penjara Probolinggo yang kita duga ikut di belakang aktivitas tersebut.

Rohman minta kepada tim untuk menunggu komandannya, “Tunggu komandan saya mas,” kata Rohman. Selang berapa lama, kita didatangi oleh seseorang yang mengaku pemilik dum truck atas nama Sugiono.

Dalam pertemuan saat itu, dirasa ada kejanggalan pihak polsek, bukannya bertindak malah menyuruh kita berdamai, padahal mereka juga tahu kalau itu perbuatan melanggar hukum. Bahkan kita diberi uang damai oleh Rohman RP. 400.000 yang sementara uang itu kita pakai barang bukti (bb).

Hal yang aneh dan patut dipertanyakan, jika pemilik SPBU beserta manager dan pengawas benar-benar tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut, ataukah memang salah satu dari mereka yang memberi arahan kepegawai untuk menjual bbm bersubsidi jenis solar, ataukah memang sudah ada kerja sama kongkalikong antara pemilik SPBU dengan pengusaha…?

Dan apakah memang pihak aparat setempat sengaja melakukan pembiaran dan ikut bekerja sama terkait kegiatan tersebut..?

Padahal Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), secara resmi telah melarang truk angkutan menggunakan solar. Larangan tersebut berbentuk surat edaran NO.3856/2019 dan berlaku efektif sejak 1 Agustus 2019. Keputusan tersebut, diambil lantaran penggunaan solar bersubsidi sudah mencapai 9.04 juta kilo liter (kl).

Kendaraan yang dilarang memakai solar adalah yang dipergunakan untuk pengangkutan hasil perkebunan, kehutanan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam buah. seperti jenis mobil tangki CPO, dump truck, truck trailer, truk gandeng, dan mobil molen (pengaduk semen) tetap dilarang menggunakan solar bersubsidi.

Tapi, meskipun sudah ada larangan dari BPH Migas, masih banyak pengusaha nakal yang membeli solar bersubsidi. Dari temuan ini, patut dipertanyakan kesigapan pihak penegak hukum menjalankan peraturan dalam rangka menindak tegas para pengusaha ataupun SPBU nakal yang sengaja mencari keuntungan lebih. (tim) Bersambung..

 330 total views,  1 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!