Warga Protes Minta Konpensasi, Pemilik Galian Keluhkan Sepi


ARYA-MEDIA, Nganjuk – Ratusan warga dari Desa Genjeng, Kecamatan Loceret, telah diresahkan adanya tambang tanah cadas (galian c) di wilayah Kabupaten Nganjuk. Tambang yang diketahui milik Mulyono warga Ploso Kecamatan Nganjuk Kota, diduga telah mendatangkan bencana polusi debu yang sangat luar biasa bagi warga Genjeng dan sekitarnya. Selain itu, banyak warga yang terganggu dengan suara bising mesin ala berat (bego) dari penambang dikala jam operasional.

“Contohnya, jendela kaca serta meja kursi ini, belum sampai jam 10 sudah tiga kali menyapu, tapi sudah dipenuhi debu lagi. Dan selama ada galian c ini, kalau nyuci pakaian kita juga susah menjemurnya karena takut kena debu. Terus mau dijemur dimana..? semua pasti ada debunya. Mau istirahat siang juga tidak bisa karena suara bego sangat mengganggu,” ujar salah satu yang tidak mau menyebutkan namanya, Selasa (3/9/2019).

Diketahui bahwa, banyak warga yang merasa keberatan dengan adanya tambang tanah yang ada di Desa tersebut. Karena, sejak tanggal 2 Pebruari 2019 lalu sampai hari ini, pihak penambang tidak memberikan kompensasi apapun kepada warga yang terdampak dari galian c tersebut.

Baca Juga :  Pembinaan Solidaritas Ketahanan Nasional Dengan Memanfaatkan Teknologi Digital

Warga juga mewanti wanti kepada pihak penambang untuk segera memberikan tanggung jawabnya sebagai pelaksana proyek galian. Dan warga sepakat akan melakukan penutupan akses jalan menuju galian. “Kalau sampai pertengahan bulan tidak segera memberikan kompensasi yang layak kepada kami terutama 53 kk, kami akan menutup akses jalan menuju proyek tersebut. Karena kami tidak akan membiarkan lingkungan kami dibuat seperti ini,” tegas warga setempat kepada Arya Media, (3/9).

Baca Juga :  Woow... Hadiah Utama Jalan Santai Diraih Warga Maospati Dengan Mimpi Indahnya

Setelah dikonfirmasi kepada Mulyono sebagai pengelola dan penanggng jawab tambang mengakui, bahwa adanya gejolak atau protes dari warga terdampak kepada dirinya. Tapi, pihaknya mengatakan sudah pernah memberikan kompensasi kepada sebagian warga.

“Saya sudah pernah memberikan kompensasi kepada warga, walaupun jumlahnya kecil,” terang Mulyono melelui via telfon selulernya, Rabu (4/9).

Mulyono juga mengeluhkan, bahwa tambang galian c yang dikelolanya itu, masih minim dan juga tergolong sepi. Karena, sebelumnya sebanyak 30 rit dum truk yang mengangkut tanah galiannya.

Baca Juga :  Mantan Pidana : Kepala DPMD Magetan Minta Panitia Pilkades Bertindak Tegas

“Bayangkan saja pada hari senin kemarin, seharian cuma 5 rit. Biasanya kalau lagi rame bisa sampai 30 rit. Saya agak bingung kalau pekerjaan tidak diteruskan sama dengan bunuh diri, artinya sudah banyak biaya yang saya keluarkan,” pungkasnya. (murya)

 1,800 total views,  24 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!