UA-163642268-1

“Nafas Wayang Dalam Batasan Ruang Gerak”


Penulis : Bagus Ragil Rimangku

Pada era tahun 2000’an kebawah mungkin banyak orang yang menyebutnya dengan istirlah era milenial, dimana seluruh cakupan imajinasinya tidak terbatas meskipun berada dalam ruang dan waktu yang berjarak. Salah satu aksi dari dimensi kaum milenial ini adalah pembaharuan wayang yang terangkum dalam satu kotak kecil berlayar. Banyak di antara orang luar menyebutnya dengan gadget atau handphone (android). Merebaknya virus gadget ini mampu menjadi alternatif baru dimana bukan hanya wayang saja, melainkan juga kefanaan dunia ini mampu digenggam dalam satu komando.

Terlebih di tahun 2020 ini, wayang berada dalam siklus mikro dalam sumbu apung, tetapi makro dalam jaringan milenial. Seiring dengan mewabahnya virus Covid-19, struktur pagelaran wayang mengalami revitalisasi. Bahkan secara fungsional pun wayang menjadi kurang leluasa dalam bernafas. Meskipun secara konsep pertunjukan wayang masih dalam aturan kaidah pedalangan, akan tetapi pergeseran nilai dan fungsinya sedikit tergores luka.

Baca Juga :  Diduga Akibat Konsleting Listrik, Rumah di Ngawi Hangus Terbakar

Mengutip pernyataan Suyanto dalam jurnalnya yang berjudul Pertunjukan Wayang sebagai Salah Satu Bentuk Ruang Mediasi Pendidikan Budi Pekerti (2013:2), bahwa:

“Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan yang mengandung berbagai pesan pendidikan, baik dilihat dari wujud karakter tokoh-tokohnya, pertunjukan, maupun lakon-lakon yang disajikan. Kekuatan konvensional dalam Wayang banyak mempengaruhi budaya masyarakat, tidak sekedar lukisan yang digunakan sebagai hiasan dan kesenangan, lebih jauh Wayang menjadi pandangan hidup, keteladanan, dan harapan masyarakat. Pertunjukan yang mengandung berbagai pesan pendidikan, baik dilihat dari wujud karakter tokoh-tokohnya, pertunjukan, maupun lakon-lakon yang disajikan. Kekuatan konvensional dalam Wayang banyak mempengaruhi budaya masyarakat, tidak sekedar lukisan yang digunakan sebagai hiasan dan kesenangan, lebih jauh Wayang menjadi pandangan hidup, keteladanan dan harapan masyarakat”.

Baca Juga :  Polres Gelar Jagong Kamtibmas : Tolak Berita Hoax dan Ujaran Kebencian

Berangkat dari pernyataan di atas, wayang yang semula menjadi sarana penyaluran pesan pesan positif kene terbengkalai. Entah termakan oleh peraturan yang rasa bijaknya tidak terkondisikan, atau memang mematahkan asumsi publik jika wayang adalah salah satu pelopor budaya bangsa. Masih menjadi pertanyaan, ada apa dengan pertunjukan wayang? Apakah para pelaku seninya bertindak sebagai pendosa yang dalam tiap nafasnya menyebarkan penyakit?, bukankah wayang hanya dipentaskan di malam hari saja? Lalu apa bedanya dengan kerumunan pasar yang pada setiap harinya berdesak-desakan?

Sehina itukah wayang dalam pertunjukan? Atau ini bagian dari pemusnahan wayang? Atau mungkin hendak menjejali otak milenial dengan mashab “wayang adalah haram”?

Pandemi memang bukan segalanya dari kehidupan, tetapi kehidupan harus berjalan sebagaimana mestinya. Alam selalu memberi jawaban dari sebuah pertanyaan, dan alam selalu memberikan tempat untuk manusianya bertanya. Kembali pada wayang, mungkin bagi seniman materi atas pertunjukan wayang adalah nomor sekian setelah tujuannya tercapai. Akan tetapi bagi para pelaku seni, materi menjadi azaz terpenting setelah pagelaran.

Baca Juga :  Terobosan Baru : Satlantas Polres Magetan Luncurkan Program "ARTIS"

Wayang masih terlalu besar jika hanya dibicarakan dalam konteks pandemi, sifatnya yang makro dan universal mampu menyelam ke berbagai aspek dan linimasa yang tak terjangkau. Wayang juga masih terlalu agung kalau hanya disandingkan dengan riuhnya kemeluk pandemi. Kedepan wayang masih akan eksis dengan nafas dan pembaharuannya, tidak lupa dengan sejuta konflik yang kelak jadi penghantar keselarasan hidup manusia.

Ruang gerak bisa saja terbatas, tapi imajinasi dan rasa cinta terpampang nyata untuk nafas nafas wayang, itu kuncinya. (Bgs)

 656 total views,  2 views today


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!