Arya-Media.com, Dua tahun lalu, sekolah-sekolah di Belanda memberlakukan larangan penggunaan ponsel pintar, jam tangan pintar, dan tablet di seluruh lingkungan sekolah. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi gangguan, meningkatkan konsentrasi, dan mendorong peningkatan prestasi akademis murid. Kini, pemerintah Belanda bahkan berencana memperluas pembatasan ke media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, serta menyerukan batas usia minimum 15 tahun di Uni Eropa untuk aplikasi populer seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat.
Di Sekolah Cygnus Gymnasium di Amsterdam, sebuah papan kuning menyala di gerbang mengingatkan murid: "Perhatian: mulai titik ini, ponselmu harus berada di loker. Terima kasih." Slogan dalam bahasa Belanda, "Telefoon t’huis of in de kluis" (Ponsel di rumah atau di loker), kini berlaku secara nasional.
Pemerintah Belanda memilih kesepakatan nasional dengan sekolah, orang tua, dan guru, alih-alih membuat undang-undang. Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat penerapan aturan dan mendapatkan dukungan luas tanpa perdebatan panjang di parlemen.
Meskipun demikian, ada perasaan campur aduk di kalangan murid. Dua pelajar di Cygnus Gymnasium, Hena dan Fena, mengaku harus berhati-hati agar ponsel mereka tidak disita. "Saya rasa ini menyebalkan tapi bukan berarti hak kami dilanggar atau semacamnya," kata mereka. "Mungkin sekarang kami sedikit lebih memperhatikan. Saat istirahat, tidak ada yang benar-benar bermain ponsel."

Guru Ida Peters merasakan perbedaan nyata pada perilaku murid. "Sebagai guru, saya selalu mencoba menarik perhatian murid. Selalu menantang untuk mendapatkan fokus di kelas, dan kini karena ponsel mereka lebih jarang terlihat, itu jelas membantu," ungkapnya.
Di Inggris, ponsel pintar juga tidak boleh digunakan di ruang kelas. Namun, tanpa aturan nasional, sekolah dan guru di sana harus berimprovisasi. Berbeda dengan Belanda, adanya kesepakatan nasional membebaskan staf pengajar dari tanggung jawab penuh.
Menurut Peters, pendekatan Belanda mengurangi gesekan dalam manajemen kelas. "Di sekolah dulu sering ada pemeriksaan ponsel; sekarang suasananya lebih santai, lebih tenang, tidak terlalu khawatir," jelasnya. Ponsel juga tidak diperbolehkan saat istirahat atau pesta sekolah, sehingga murid tidak cemas difoto dan diunggah ke media sosial. "Ketika anak-anak lebih rileks, hasil belajar mereka meningkat."
Data awal mendukung pengamatan tersebut. Sebuah studi pemerintah terhadap 317 sekolah menengah menemukan sekitar tiga perempat responden melaporkan peningkatan konsentrasi sejak ponsel dilarang. Hampir dua pertiga mengatakan iklim sosial membaik, sementara sekitar sepertiga melihat peningkatan prestasi akademis. Survei lain juga menunjukkan penurunan perundungan ketika perangkat tidak digunakan sepanjang hari sekolah.
Felix dan Karel, keduanya berusia 15 tahun, diketahui menghabiskan dua hingga lima jam sehari di media sosial. Karel langsung membuka TikTok saat bangun, sedangkan Felix menunggu setelah sarapan. "Ketika pertama kali mendengar berita itu, saya pikir, ‘Saya ingin pindah sekolah karena ini bukan yang saya inginkan,’" ujar salah satu dari mereka. Namun, mereka tidak merasakan sisi negatifnya dan percaya dampaknya akan positif.

Saat ini, perdebatan di Belanda beralih ke pembatasan media sosial. Pemerintah secara resmi menyarankan anak di bawah 15 tahun tidak menggunakan media sosial. Koalisi pemerintahan yang baru bahkan menginginkan batas usia minimum 15+ di tingkat Eropa yang dapat ditegakkan dan didukung verifikasi usia.
Mereka berargumen, jika negara dapat membatasi alkohol atau perjudian, maka harus bertindak juga terhadap platform media sosial yang dirancang adiktif. Koalisi yang memiliki 66 dari 150 kursi di parlemen ini membutuhkan dukungan partai lain, dan aturan wajib mengenai akses anak ke media sosial harus dinegosiasikan di tingkat Uni Eropa.
Opini publik di Belanda tampaknya bergeser mendukung kebijakan ini. Berdasarkan survei Unicef terhadap lebih dari 1.000 anak dan remaja Belanda, 69% mendukung pelarangan media sosial untuk anak di bawah 18 tahun. Dalam survei yang sama, 28% mengatakan platform harus sepenuhnya dilarang bagi anak di bawah 12 tahun, dengan alasan bahwa anak-anak kecil "seharusnya masih bermain di luar, bukan bermain ponsel." Laporan survei itu juga menyebut media sosial sebagai adiktif, tidak aman, dan buruk bagi kesehatan mental.
Survei tahunan media sosial oleh lembaga riset Newcom menemukan bahwa 60% anak usia 16 hingga 28 tahun mendukung pembatasan usia, naik dari 44% tahun sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perubahan pandangan bahwa anak muda tidak selalu ingin terus-menerus terhubung ke internet. Mantan menteri pendidikan, Koen Becking, menyoroti "bukti yang terus bertambah" bahwa penggunaan media sosial secara intens berdampak buruk pada kesehatan mental dan interaksi sosial. Data Belanda menunjukkan anak-anak lebih mudah terdistraksi dan lebih cemas ketika mereka memiliki akses ke perangkat.
Di Sekolah Cygnus, Karel mengaku akan "sedikit hancur" jika larangan media sosial diberlakukan karena ia "agak kecanduan." Sementara itu, Felix lebih santai. "Saya akan terbiasa dan menemukan hal lain untuk dilakukan, jadi saya rasa saya tidak akan terlalu keberatan," katanya.

Dewan Riset Belanda kini tengah meneliti konsekuensi yang tidak diinginkan dari larangan ponsel, termasuk apakah tidak memiliki ponsel sepanjang hari meningkatkan fear of missing out (FOMO) dan memicu penggunaan ponsel yang lebih intens setelah sekolah. Para murid bersikeras tidak lebih banyak bermain ponsel sebelum atau sesudah sekolah. Namun, Felix mengakui bahwa menjauhkan layar dari pandangan membuat mereka lebih fokus belajar.
"Orang-orang lebih banyak berbicara, pergi ke toko daripada hanya duduk di kantin bermain ponsel," ujar Felix. "Kami lebih banyak bersosialisasi; hubungan sosial meningkat." Bagi anak-anak Belanda, mengetuk layar ponsel pintar bukan lagi bagian dari kehidupan sekolah. Pertanyaan berikutnya bagi Belanda, dan mungkin bagi negara lain, adalah apakah akses ke aplikasi media sosial juga harus menjadi bagian dari masa lalu.
(haf/haf)





