Dari Kebun Cabai Ngawi ke Meja Kebijakan: Ibas Gagas Stabilitas Pangan sebagai Pilar Ketahanan Nasional

Arya-Media.Com, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menegaskan komitmen kuat Partai Demokrat dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui kestabilan harga yang berpihak pada petani dan konsumen. Komitmen ini diwujudkan melalui serangkaian kegiatan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) yang dilaksanakan di Desa Bangunrejo, Ngawi, Jawa Timur. Dalam acara bertajuk "Dialog Kebangsaan Bersama Wakil Ketua MPR RI: Kestabilan Harga Pangan sebagai Pilar Ketahanan Nasional", Ibas tidak hanya menyerap aspirasi, tetapi juga meninjau langsung denyut nadi pertanian di lapangan, khususnya komoditas cabai yang kerap menjadi barometer gejolak harga pangan.

Sebagai seorang legislator yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengabdian kepada masyarakat, Ibas memahami betul bahwa stabilitas harga pangan bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan fondasi vital bagi ketahanan sosial, politik, dan bahkan keamanan nasional. Ketika dapur rakyat bergejolak karena harga kebutuhan pokok yang tidak menentu, potensi kerentanan di berbagai sektor kehidupan bangsa akan meningkat. Oleh karena itu, tema yang diusung dalam dialog ini menjadi sangat relevan, menggarisbawahi urgensi penyelesaian masalah pangan secara komprehensif dan berkelanjutan.

Ngawi, sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur, menjadi lokasi strategis untuk memahami tantangan dan potensi sektor pertanian. Desa Bangunrejo, dengan semangat kemandirian petaninya, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana masyarakat lokal berjuang menghasilkan komoditas pangan. Dalam kunjungannya, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini menyempatkan diri meninjau kebun cabai milik warga, berinteraksi langsung dengan para petani, dan mendengarkan keluh kesah mereka mengenai fluktuasi harga yang kerap merugikan. Dialog tatap muka ini menjadi jembatan penting antara pembuat kebijakan dan pelaku di lapangan, memastikan bahwa setiap regulasi yang dirumuskan nantinya benar-benar menyentuh akar permasalahan.

Dari dialog intensif tersebut, Ibas mendapatkan gambaran jelas mengenai dinamika harga cabai di tingkat petani. Petani di Bangunrejo menuturkan bahwa harga cabai rawit sempat melonjak drastis hingga menembus angka Rp 100.000 bahkan Rp 130.000 per kilogram di pasar, sebuah angka yang fantastis bagi konsumen. Namun, ironisnya, di tingkat petani, harga ideal yang dapat memberikan keuntungan layak berada di kisaran Rp 60.000-Rp 70.000 per kilogram. Angka ini dianggap adil karena sudah memperhitungkan biaya produksi yang tidak sedikit, mulai dari bibit, pupuk, obat-obatan, hingga upah tenaga kerja untuk penanaman dan panen. Dengan pola panen yang dilakukan dua kali seminggu, dan potensi hasil mencapai 50 kilogram per pekarangan yang dikelola secara optimal, cabai memang menjadi komoditas yang menjanjikan jika ekosistem harganya stabil dan menguntungkan semua pihak.

Menanggapi disparitas harga yang ekstrem ini, Anggota Dewan Penasihat KADIN tersebut menegaskan pentingnya mencari titik temu yang harmonis antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. "Jika harga terlalu rendah, petani tertekan dan enggan menanam lagi. Namun jika harga terlalu tinggi, masyarakat juga akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita harus mencari harga yang adil dan berimbang agar rantai pasok pangan berjalan sehat," tegas Ibas dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025). Pernyataan ini mencerminkan prinsip keadilan ekonomi yang menjadi salah satu pilar perjuangan Partai Demokrat, yaitu menciptakan keseimbangan yang saling menguntungkan bagi seluruh elemen masyarakat.

Lebih lanjut, Ibas menyoroti perlunya menjaga mekanisme pasar agar tetap sehat dan berfungsi secara efisien, tanpa adanya distorsi yang merugikan. Pemerintah, menurutnya, memiliki peran krusial dalam melakukan pengawasan ketat untuk mencegah praktik-praktik spekulasi, penimbunan, atau monopoli yang dapat memicu gejolak harga secara artifisial. Intervensi pasar yang tepat sasaran, seperti operasi pasar atau penyaluran stok cadangan, perlu dilakukan secara terukur untuk meredam lonjakan harga yang tidak wajar. Namun, di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan bahwa harga tidak jatuh terlalu rendah hingga merugikan petani dan mematikan gairah produksi.

Salah satu inovasi yang mendapatkan apresiasi khusus dari Ibas adalah pemanfaatan lahan pekarangan sebagai solusi konkret untuk menjaga pasokan cabai dan menekan gejolak harga. Petani di Bangunrejo telah menunjukkan contoh "thinking outside the box" dengan mengoptimalkan lahan non-sawah mereka untuk budidaya cabai, tanpa mengganggu fungsi utama pertanian pangan seperti padi. "Ini adalah contoh berpikir maju yang patut ditiru. Cerita sukses seperti ini harus ditularkan ke desa-desa lain di seluruh Indonesia," ujarnya, seraya mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk memfasilitasi program-program serupa. Pemanfaatan lahan pekarangan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan bagi masyarakat desa.

Selain isu harga, lulusan S3 IPB University ini juga menyoroti berbagai tantangan struktural yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan akses terhadap pupuk subsidi, ancaman serangan hama dan penyakit tanaman, hingga kebutuhan modal usaha yang kerap menjadi kendala utama. Ia menegaskan bahwa Partai Demokrat akan terus mengawal agar distribusi pupuk bersubsidi dapat lebih adil, transparan, dan tepat sasaran, mencegah terjadinya penyelewengan yang merugikan petani. Selain itu, akses permodalan bagi petani harus diperluas melalui skema kredit lunak atau dukungan dari lembaga keuangan mikro. Penguatan peran penyuluh pertanian juga menjadi krusial untuk membekali petani dengan pengetahuan dan teknologi terkini dalam menghadapi serangan hama dan penyakit.

Ibas juga menyinggung potensi besar pertanian lokal untuk mendukung program-program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas. "Kalau bahan pangan bisa langsung dari petani lokal, kualitasnya akan lebih terjaga, harganya lebih bersahabat karena memangkas rantai distribusi yang panjang, dan petani juga akan lebih sejahtera karena mendapatkan harga yang layak," jelasnya. Konsep ini mendorong ekosistem pangan yang berkelanjutan, di mana produksi lokal terserap secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi petani.

Dalam sambutannya di hadapan warga, anggota Dapil Jawa Timur VII ini menegaskan bahwa desa adalah fondasi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pembangunan di sektor pendidikan, pertanian, infrastruktur, dan penyediaan perumahan layak harus terus diperkuat hingga ke tingkat desa. Ibas membuka lebar ruang aspirasi bagi masyarakat terkait berbagai program, seperti beasiswa pendidikan untuk generasi muda desa, program Bedah Rumah (BSPS) untuk meningkatkan kualitas hunian warga, serta penguatan sistem irigasi dan penyediaan alat pertanian modern. Semua aspirasi ini, katanya, dapat langsung disampaikan kepada Partai Demokrat untuk dikawal dan diperjuangkan di tingkat pusat maupun daerah.

Menjelang akhir tahun, Ibas turut menyoroti kondisi harga pangan yang kerap mengalami kenaikan signifikan, terutama cabai dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Fenomena ini memicu tingginya animo masyarakat terhadap pasar murah yang diselenggarakan di Ngawi. Ia menekankan pentingnya pengawasan distribusi yang ketat, pelaksanaan operasi pasar yang tepat sasaran, serta penguatan produksi lokal secara berkelanjutan sebagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan dari gejolak musiman.

"Ketahanan nasional dimulai dari dapur rakyat," pungkas Ibas, menggarisbawahi filosofi inti dari perjuangan ini. "Jika harga pangan stabil, petani sejahtera, dan masyarakat tenang, maka bangsa ini akan kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan." Pernyataan ini menjadi penutup yang kuat, merangkum seluruh visi dan misi yang disampaikan. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga optimisme, semangat gotong royong, dan kemandirian desa sebagai pilar utama pembangunan.

Kegiatan penting ini dihadiri oleh berbagai pihak, menunjukkan komitmen bersama dalam menyelesaikan isu pangan. Turut hadir Anggota DPRD dari Partai Demokrat untuk Kabupaten Ngawi, Haris Agus Susilo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Ngawi, Kepala UPT Pengelolaan Pasar Daerah, serta Kepala Desa Bangunrejo Lor beserta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran multi-stakeholder ini menjadi sinyal positif bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan koordinasi dan kolaborasi dari berbagai tingkatan pemerintahan dan elemen masyarakat.