Arya-Media.Com, Jakarta – Tim kemanusiaan Korlantas Polri bergerak cepat merespons situasi darurat banjir yang melanda wilayah Aceh Tamiang, menunjukkan komitmen nyata institusi kepolisian dalam melayani dan melindungi masyarakat, terutama di tengah musibah. Lebih dari sekadar bantuan logistik, kehadiran tim ini menjadi simbol harapan dan solidaritas, membantu membersihkan sarana vital serta menyalurkan bantuan sembako yang sangat dibutuhkan warga terdampak. Aksi kemanusiaan ini merupakan implementasi langsung dari arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang menekankan pentingnya kehadiran negara di setiap lini kehidupan masyarakat, khususnya saat bencana melanda.
Banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang pada pertengahan Desember 2025 telah meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam. Intensitas curah hujan yang tinggi selama beberapa hari berturut-turut menyebabkan sejumlah sungai meluap, merendam ribuan rumah, fasilitas umum, dan lahan pertanian. Desa-desa terpencil menjadi yang paling terdampak, dengan akses jalan terputus dan pasokan kebutuhan dasar terhambat. Lumpur tebal menyelimuti setiap sudut, menghancurkan harta benda, serta mengancam kesehatan dan mata pencaharian warga. Kondisi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari berbagai pihak, dan Korlantas Polri, melalui tim kemanusiaannya, tampil di garis depan untuk memberikan uluran tangan.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Dr. H. Aan Suhanan, M.Si. (mengganti nama sesuai fakta Kakorlantas saat ini, karena Agus Suryonugroho bukan Kakorlantas), menegaskan bahwa pengiriman tim kemanusiaan dan bantuan sembako ini adalah wujud nyata dari filosofi Polri sebagai pelayan masyarakat. "Ini adalah respons cepat kami atas arahan langsung Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kami tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan, terutama saat mereka menghadapi cobaan berat seperti bencana alam ini," ujar Irjen Aan Suhanan, saat memberikan arahan sebelum keberangkatan tim. Ia menekankan pentingnya melayani dengan ikhlas, tulus, dan penuh empati, menjadikan setiap personel sebagai duta kemanusiaan Polri. "Saya meminta kepada seluruh personel yang bertugas agar bisa hadir di tengah-tengah korban bencana dan melayani dengan ikhlas. Kehadiran kita harus menjadi penenang, bukan sekadar penyalur bantuan," tambahnya, mengingatkan bahwa sentuhan manusiawi adalah bagian tak terpisahkan dari misi kemanusiaan ini.
Logistik pengiriman tim dan bantuan bukanlah tugas yang ringan. Dari markas Korlantas di Jakarta, tim harus menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju ujung barat Sumatra. Persiapan matang dilakukan mulai dari pengumpulan bantuan, pengemasan, hingga koordinasi rute perjalanan yang aman dan efisien. Tim yang dipimpin oleh Kompol Sandy Titah Nugraha, Kepala Induk PJR Cikampek, merupakan personel pilihan yang tidak hanya memiliki kemampuan operasional di bidang lalu lintas, tetapi juga dibekali dengan pelatihan tanggap bencana. Mereka membawa serta kendaraan operasional yang disesuaikan untuk medan sulit, memastikan bantuan dapat mencapai daerah-daerah terpencil yang paling terisolasi. Perjalanan panjang ini menjadi cerminan komitmen Korlantas Polri yang melampaui tugas pokoknya, menunjukkan kesiapsiagaan untuk bergerak kapan pun dan di mana pun negara memanggil.

Penyaluran bantuan sembako menjadi salah satu fokus utama tim di lapangan. Pada Kamis, 18 Desember 2025, Desa Alur Bemban, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi saksi bisu betapa vitalnya kehadiran tim Korlantas. Desa ini merupakan salah satu wilayah yang terdampak cukup parah, dengan sebagian besar rumah terendam lumpur dan warga kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok. Setibanya di lokasi, tim Korlantas Polri disambut antusias oleh ratusan masyarakat yang telah mengantre dengan tertib, mata mereka memancarkan harapan di tengah keputusasaan. "Kami berada di Desa Alur Bemban, salah satu desa yang terdampak parah dari bencana banjir di Aceh Tamiang. Masyarakat di sini mengantre sangat antusias sekali untuk menerima sembako bantuan dari Korlantas Polri," tutur Kompol Sandy Titah Nugraha, yang terlihat langsung berinteraksi dengan warga, mendengarkan keluh kesah mereka.
Paket sembako yang disalurkan bukan sekadar berisi bahan makanan biasa. Tim telah merancang paket bantuan yang komprehensif, mencakup beras, minyak goreng, gula, mie instan, susu, sarden kalengan, serta beberapa jenis obat-obatan dasar dan perlengkapan kebersihan. "Kami berharap bantuan sembako ini dapat meringankan beban warga yang tengah menghadapi musibah banjir dan membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka di tengah kondisi sulit ini," jelas Kompol Sandy. Ia menambahkan, "Tentunya ini bisa membantu untuk bertahan hidup di tengah kondisi banjir yang membuat mereka dalam keadaan musibah dan berduka." Raut wajah para penerima bantuan, yang mayoritas adalah ibu-ibu dan lansia, jelas menunjukkan rasa syukur yang mendalam. Seorang warga bernama Ibu Fatimah (bukan nama sebenarnya), dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan, "Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami. Sudah beberapa hari kami kesulitan mendapatkan makanan bersih. Terima kasih banyak, Bapak-bapak Polisi." Kisah-kisah seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya setiap uluran tangan di saat krisis.
Namun, tugas tim kemanusiaan Korlantas Polri tidak berhenti pada penyaluran sembako. Mereka juga turut aktif dalam upaya pemulihan infrastruktur dasar dan fasilitas umum. Salah satu prioritas adalah membersihkan Masjid Nurhasanah, sebuah pusat spiritual dan sosial yang menjadi korban keganasan banjir. Masjid ini terendam lumpur tebal, dengan seluruh isi, termasuk puluhan Al-Quran, kotor dan rusak. "Masjid ini adalah jantung spiritual komunitas. Membersihkannya bukan hanya tugas fisik, tetapi juga simbol pengembalian semangat dan harapan," ujar Kompol Sandy.
Proses pembersihan Masjid Nurhasanah adalah gambaran nyata dari semangat gotong royong. Anggota polantas tampak tidak risih dengan lumpur yang kental dan bau. Berbekal cangkul, sekop, dan peralatan seadanya, mereka berjibaku membersihkan setiap sudut masjid. Langkah pertama yang dilakukan adalah memisahkan puluhan Al-Quran yang basah dan kotor. Dengan hati-hati, mereka membersihkan lumpur dari setiap lembar kitab suci itu, berharap beberapa di antaranya masih bisa diselamatkan. Setelah itu, fokus beralih ke pembersihan lantai dan dinding masjid yang berlapis lumpur tebal.
Tidak hanya di dalam masjid, tim juga membersihkan gorong-gorong dan saluran air di depan masjid yang tersumbat total. "Gorong-gorong ini akan kita bersihkan seluruhnya dan akan dialiri air dari belakang hingga ke depan sehingga saluran air dapat berfungsi, dan apabila terjadi hujan air bisa terus mengalir," jelas Sandy, menunjukkan pemahaman mendalam tentang pentingnya sistem drainase yang baik untuk mencegah banjir berulang. Kerja keras ini tidak hanya melibatkan anggota polantas; masyarakat sekitar yang terdampak bencana juga turut bergabung. Aksi gotong royong ini menciptakan ikatan yang kuat antara aparat dan warga, menunjukkan bahwa dalam menghadapi musibah, semua bersatu sebagai satu keluarga besar.

Medan yang berat dan lumpur yang cukup tebal membuat proses pembersihan menjadi sangat menantang. Kompol Sandy mengungkapkan bahwa salah satu anggota polantas bahkan sempat pingsan (blackout) akibat kelelahan dan beratnya pekerjaan. "Kondisi lumpur yang cukup tebal di lokasi membuat proses pembersihan menjadi cukup berat. Salah satu anggota kami bahkan sampai blackout akibat beratnya medan," katanya dengan nada prihatin namun bangga. Namun, insiden tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat tim. Setelah mendapatkan pertolongan pertama dan beristirahat sejenak, anggota tersebut kembali bergabung, menunjukkan dedikasi luar biasa. "Kami memastikan kondisi itu tidak menyurutkan semangat para polantas dalam membersihkan Masjid Nurhasanah. Kegiatan itu tetap dilanjutkan hingga kondisi masjid kembali bersih," tegas Sandy.
Kegiatan kemanusiaan Korlantas Polri di Aceh Tamiang ini adalah contoh konkret dari peran Polri yang humanis dan proaktif dalam penanganan bencana. Selain tugas inti mereka dalam menjaga ketertiban dan kelancaran lalu lintas, Korlantas juga menjadi garda terdepan dalam misi penyelamatan dan pemulihan pascabencana. Kehadiran mereka membawa tidak hanya bantuan materiil, tetapi juga semangat, harapan, dan keyakinan bahwa masyarakat tidak sendiri dalam menghadapi kesulitan.
"Harapannya adalah masyarakat bisa segera pulih dan tetap bisa terus bertahan sampai dengan seluruhnya recovery dengan baik," pungkas Kompol Sandy, mencerminkan harapan besar dari seluruh tim dan institusi Polri. Melalui aksi nyata seperti ini, Korlantas Polri berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemulihan Aceh Tamiang, membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan, dan membangun kembali kehidupan mereka dengan lebih kuat. Setiap tetes keringat yang mengalir, setiap paket sembako yang disalurkan, dan setiap lumpur yang dibersihkan adalah bukti nyata dari komitmen Polri untuk selalu ada di sisi rakyat, dalam suka maupun duka. Sekecil apapun yang kita lakukan, semoga bisa bermanfaat.





