Usia masih 20-an, tubuh terlihat bugar, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi. Apakah ini mungkin? Jawabannya, ya. Hipertensi dapat terjadi pada anak muda, termasuk mereka yang tidak memiliki keluhan dan berat badannya terlihat normal.
Penyebabnya tidak selalu sekadar terlalu banyak makan asin. Kebiasaan sehari-hari, riwayat keluarga, hingga penyakit tertentu dapat berperan. Karena sering tidak menimbulkan gejala, hipertensi mudah luput dari perhatian sampai ditemukan saat pemeriksaan rutin.
Kapan Tekanan Darah Disebut Tinggi?
Tekanan darah ditulis dalam dua angka: sistolik, yaitu tekanan saat jantung memompa darah, dan diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara denyutan. Dalam banyak pedoman, hipertensi pada orang dewasa ditetapkan ketika hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan berulang kali menunjukkan sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg. Sebagian pedoman menggunakan batas lebih rendah, sehingga interpretasinya mengikuti konteks pemeriksaan dan risiko kesehatan.
Satu kali hasil tinggi belum otomatis berarti hipertensi. Kurang istirahat, baru berolahraga, atau cemas saat diperiksa dapat memengaruhi hasil. Dokter biasanya membutuhkan pengukuran berulang, catatan tekanan darah di rumah, atau pemantauan selama 24 jam untuk memastikan diagnosis.
Penyebab Hipertensi pada Anak Muda yang Sering Terlewat
1. Natrium tersembunyi dalam makanan sehari-hari
Bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak. Mi instan, daging olahan, camilan kemasan, makanan cepat saji, saus, dan kecap juga dapat menyumbang banyak natrium. Jadi, makanan yang terasa tidak terlalu asin pun belum tentu rendah natrium.
Asupan natrium berlebihan membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada orang yang sensitif terhadap garam. Kebiasaan ini makin berisiko jika disertai konsumsi sayur dan buah yang rendah.
2. Kurang tidur, stres, dan sleep apnea
Begadang karena pekerjaan, kuliah, atau bermain gim dapat mengganggu pengaturan tekanan darah. Stres juga bisa menaikkan tekanan darah sementara dan mendorong kebiasaan lain yang merugikan, seperti merokok, minum alkohol, atau makan berlebihan.
Selain durasi tidur, kualitasnya penting. Sleep apnea obstruktif, yaitu gangguan napas berulang saat tidur, dapat berkontribusi terhadap hipertensi. Mendengkur keras, terbangun seperti tersedak, dan mengantuk berat pada siang hari merupakan alasan untuk berkonsultasi, bukan dasar untuk mendiagnosis diri sendiri.
3. Kurang bergerak dan lemak tubuh berlebih
Duduk lama dengan aktivitas fisik minim berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi. Kelebihan lemak tubuh, terutama di area perut, juga dapat memengaruhi kerja hormon, ginjal, dan pembuluh darah.
Namun, tubuh kurus bukan jaminan bebas hipertensi. Faktor keturunan dan kondisi medis tertentu tetap dapat menyebabkan tekanan darah tinggi meskipun berat badan berada dalam rentang normal.
4. Rokok, vape, alkohol, dan minuman berkafein
Nikotin pada rokok maupun sebagian produk vape dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah sementara, sekaligus membebani sistem kardiovaskular. Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan darah dalam jangka panjang.
Kafein dapat menaikkan tekanan darah sementara pada sebagian orang. Minuman energi perlu diwaspadai karena dapat mengandung kafein dalam jumlah tinggi serta bahan stimulan lain. Meski demikian, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap peminum kopi pasti mengalami hipertensi.
5. Obat, suplemen, dan zat tertentu
Beberapa zat dapat meningkatkan tekanan darah atau memperburuk hipertensi yang sudah ada. Contohnya meliputi:
- Obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen, terutama bila sering digunakan.
- Obat flu tertentu yang mengandung dekongestan.
- Kontrasepsi yang mengandung estrogen dan kortikosteroid sistemik.
- Obat atau suplemen dengan efek stimulan, termasuk sebagian produk pelangsing dan pralatihan olahraga.
Beri tahu dokter tentang semua obat, jamu, dan suplemen yang dikonsumsi. Jangan menghentikan obat resep sendiri; dokter dapat menilai apakah perlu penyesuaian atau penggantian.
6. Faktor keturunan dan penyakit yang belum terdeteksi
Riwayat hipertensi pada orang tua dapat meningkatkan risiko seseorang. Banyak kasus muncul akibat gabungan faktor genetik dan lingkungan, tanpa satu penyebab tunggal yang dapat ditunjuk.
Namun, hipertensi pada usia muda juga dapat bersifat sekunder, yaitu disebabkan kondisi lain. Contohnya penyakit ginjal, penyempitan pembuluh darah menuju ginjal, gangguan tiroid, atau produksi hormon aldosteron berlebihan. Kemungkinan ini perlu dipertimbangkan terutama bila hipertensi muncul sangat dini, mendadak, berat, atau sulit dikendalikan.
Cara Memeriksa Tekanan Darah agar Hasilnya Lebih Akurat
Jika memeriksa tekanan darah di rumah, gunakan alat otomatis lengan atas yang tervalidasi dengan ukuran manset sesuai. Lakukan langkah berikut:
- Hindari merokok, kafein, dan olahraga setidaknya 30 menit sebelumnya; kosongkan kandung kemih.
- Duduk tenang selama lima menit, dengan punggung tersangga dan telapak kaki menapak lantai.
- Pasang manset pada kulit lengan, bukan di atas pakaian, lalu sangga lengan setinggi jantung.
- Jangan berbicara saat pengukuran. Ukur dua kali dengan jeda sekitar satu menit.
- Catat hasil pagi dan malam selama beberapa hari sesuai arahan tenaga kesehatan, lalu bawa catatannya saat konsultasi.
Batas penilaian hasil di rumah dapat berbeda dari pemeriksaan klinik. Rata-rata pengukuran rumah ≥135/85 mmHg umumnya dianggap tinggi dalam pedoman yang memakai batas klinik ≥140/90 mmHg.
Apa yang Bisa Dilakukan Sejak Sekarang?
Kurangi makanan tinggi natrium dan usahakan total garam dari seluruh makanan kurang dari sekitar lima gram sehari, setara kira-kira satu sendok teh. Perbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang minim pemrosesan.
Bangun aktivitas fisik secara bertahap menuju sedikitnya 150 menit intensitas sedang per minggu, tidur teratur sekitar 7–9 jam, hindari rokok dan vape, serta batasi atau hindari alkohol. Jika hipertensi sudah terdiagnosis, perubahan pola hidup mungkin perlu disertai obat sesuai penilaian dokter.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Hipertensi sering tidak bergejala; jangan menunggu sakit kepala untuk memeriksakan diri. Jadwalkan konsultasi jika hasil pengukuran berulang tinggi.
Jika tekanan darah mencapai ≥180 mmHg sistolik atau ≥120 mmHg diastolik disertai nyeri dada, sesak, kelemahan mendadak, gangguan penglihatan, atau kesulitan bicara, segera ke IGD. Tanpa gejala tersebut, ulangi setelah duduk tenang; bila tetap setinggi itu, segera hubungi tenaga kesehatan untuk arahan. Usia muda bukan alasan untuk mengabaikan hasil pemeriksaan.





