Prediabetes kerap tidak disadari karena seseorang bisa tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa. Padahal, kadar gula darahnya sudah lebih tinggi dari normal, meski belum mencapai batas diagnosis diabetes. Kondisi ini merupakan kesempatan penting untuk melakukan perubahan sebelum risiko kesehatan meningkat.
Namun, prediabetes biasanya tidak memiliki gejala khas. Enam ciri di bawah bukan alat diagnosis: sebagian berkaitan dengan resistensi insulin, sebagian merupakan faktor risiko, dan sebagian justru dapat menandakan gula darah sudah berada pada rentang diabetes. Kepastian tetap memerlukan pemeriksaan darah.
Apa Itu Prediabetes?
Prediabetes adalah kondisi ketika pengaturan gula darah mulai terganggu. Salah satu mekanismenya adalah resistensi insulin, yaitu ketika sel tubuh kurang merespons insulin sehingga pankreas perlu bekerja lebih keras untuk membantu glukosa masuk ke dalam sel.
Prediabetes meningkatkan risiko diabetes tipe 2 serta masalah jantung dan pembuluh darah. Meski demikian, perkembangannya menjadi diabetes tidak pasti terjadi. Perubahan kebiasaan dan penanganan yang sesuai dapat menurunkan risiko, bahkan membantu kadar gula kembali ke rentang normal.
6 Ciri yang Patut Diperhatikan
1. Kulit Lipatan Menggelap dan Terasa Tebal
Perhatikan kulit di belakang leher, ketiak, atau selangkangan. Area yang menjadi lebih gelap, menebal, dan terasa seperti beludru dapat merupakan acanthosis nigricans, perubahan kulit yang sering berkaitan dengan resistensi insulin.
Perubahan ini bukan sekadar daki dan biasanya tidak hilang hanya dengan digosok. Meski begitu, penyebabnya tidak selalu prediabetes. Pemeriksaan dokter diperlukan, terutama jika perubahan muncul mendadak atau meluas dengan cepat.
2. Muncul Banyak Tonjolan Kulit Kecil
Tonjolan kulit kecil bertangkai, atau skin tags, sering muncul di leher, ketiak, dan area gesekan. Pada sebagian orang, jumlahnya yang banyak berkaitan dengan obesitas dan resistensi insulin.
Skin tags juga sangat umum pada orang tanpa gangguan gula darah. Jadi, keberadaannya tidak membuktikan prediabetes. Namun, jika disertai kulit lipatan menggelap, berat badan berlebih, atau riwayat keluarga diabetes, pertimbangkan membahas pemeriksaan gula darah dengan dokter. Jangan memotongnya sendiri.
3. Lingkar Perut Semakin Bertambah
Penumpukan lemak di perut bukan gejala langsung prediabetes, melainkan faktor risiko penting. Lemak di sekitar organ dalam dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, termasuk pada orang yang berat badannya tidak tampak terlalu tinggi.
Pada populasi Asia, lingkar perut sekitar 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan sering digunakan sebagai penanda obesitas sentral. Angka ini membantu menilai risiko, bukan menentukan diagnosis prediabetes.
4. Mudah Lelah Tanpa Sebab yang Jelas
Kelelahan yang menetap kadang menyertai gangguan gula darah, tetapi keluhan ini sangat tidak spesifik. Kurang tidur, anemia, stres, gangguan tiroid, dan berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkannya.
Jika rasa lelah terus berulang meski istirahat cukup, terutama bila Anda memiliki faktor risiko diabetes, lakukan evaluasi. Mengantuk setelah makan saja tidak cukup untuk menyimpulkan prediabetes, dan tidak semua kelelahan perlu dianggap sebagai masalah gula darah.
5. Lebih Sering Haus dan Buang Air Kecil
Ketika gula darah cukup tinggi, ginjal membuang kelebihan glukosa melalui urine dan membawa lebih banyak cairan keluar. Akibatnya, seseorang bisa lebih sering buang air kecil dan merasa sangat haus.
Keluhan ini lebih khas pada diabetes daripada prediabetes. Jangan menunggu jika haus berlebihan atau sering terbangun untuk berkemih muncul tanpa penjelasan, terlebih bila disertai penurunan berat badan. Minuman berkafein, obat tertentu, dan gangguan lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa.
6. Penglihatan Kabur atau Berubah-ubah
Gula darah yang tinggi dapat mengubah keseimbangan cairan pada lensa mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Namun, keluhan ini bukan tanda khas prediabetes dan bisa berasal dari masalah mata yang tidak berkaitan dengan gula darah.
Penglihatan kabur yang menetap atau berulang perlu diperiksa, bukan langsung diatasi dengan mengganti kacamata. Jika penglihatan mendadak menurun, terutama disertai nyeri mata atau gejala saraf, cari pertolongan medis segera.
Cara Memastikan Prediabetes: Tes Darah, Bukan Tebakan Gejala
Pada orang dewasa yang tidak hamil, kriteria prediabetes yang umum digunakan meliputi:
- Gula darah puasa: 100–125 mg/dL setelah tidak mengonsumsi kalori setidaknya delapan jam.
- HbA1c: 5,7–6,4%, yang mencerminkan rata-rata gula darah sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.
- Tes toleransi glukosa oral: gula darah dua jam setelah minum larutan 75 gram glukosa sebesar 140–199 mg/dL.
Dokter menentukan tes yang sesuai dan apakah hasilnya perlu diulang. Kehamilan, anemia tertentu, serta kondisi lain dapat memengaruhi pemilihan atau penafsiran tes. Alat cek gula darah rumahan berguna untuk pemantauan, tetapi bukan pengganti pemeriksaan laboratorium untuk menetapkan diagnosis.
Langkah untuk Menurunkan Risiko Diabetes
- Bergerak teratur. Targetkan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, ditambah latihan kekuatan dua kali seminggu sesuai kemampuan.
- Perbaiki pola makan. Perbanyak sayur, pilih protein dan sumber karbohidrat tinggi serat, sesuaikan porsi, serta batasi minuman manis.
- Kelola berat badan. Bila berat badan berlebih, penurunan sekitar 5–7% dapat membantu mengurangi risiko diabetes.
- Jaga tidur dan hindari rokok. Usahakan tidur cukup dan kurangi waktu duduk berkepanjangan.
- Lakukan pemantauan. Jika sudah terdiagnosis prediabetes, gula darah umumnya diperiksa setidaknya setiap tahun. Sebagian orang memerlukan obat berdasarkan penilaian dokter.
Jangan Menunggu Semua Ciri Muncul
Diskusikan skrining mulai usia 35 tahun, atau lebih dini bila ada berat badan berlebih, keluarga dekat dengan diabetes, riwayat diabetes saat hamil, maupun PCOS. Tidak adanya keluhan bukan jaminan gula darah normal.
Jika haus dan sering berkemih disertai muntah, nyeri perut, napas cepat atau dalam, maupun kebingungan, segera ke IGD. Intinya, mengenali risiko dan memeriksa gula darah lebih dapat diandalkan daripada menebak dari ciri tubuh.





